Selasa, 28 Juli 2009

KEAGUNGAN SEBUAH PERNIKAHAN


Bagi setiap kita yang akan menikah ataupun merencanakan untuk menikah, hendaknya terlebih dulu dapat menjawab pertanyaan ini : Apa tujuan kita menikah? Untuk menghasilkan keturunankah? Atau memuaskan kebutuhan seksual kita? Atau sekedar mengikuti proses hidup, lahir, tumbuh besar, menikah, punya anak, punya cucu trus MATI? Pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana kalau kita tidak punya anak dalam pernikahan, apakah kita bercerai saja? Atau bagaimana bila kepuasan seksual kita tidak lagi terpenuhi dalam pernikahan, apakah cari pasangan yang lain, trus selingkuh begitu? Apa bedanya kita dengan binatang kalau begitu, yang hidupnya hanya untuk kawin dan punya anak, kawin lagi punya anak lagi dan seterusnya? Kalau hanya sebatas itu tujuannya, dimanakah letak kesakralan dan keagungan sebuah pernikahan?


Sejak awal dunia diciptakan, Tuhan berfirman demikian :


TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kejadian 2 : 15 – 24


Sejak awal penciptaan, manusia adalah makhluk yang paling mulia dari semua ciptaan. Manusia lebih mulia daripada alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia bahkan diciptakan sebagai rekan kerja Allah untuk mengusahakan dan memelihara taman eden (dunia ciptaan).

Di dalam tugas yang maha mulia itu, Tuhan “berempati” kepada manusia (pria) yang tidak memiliki penolong yang sepadan dari semua ciptaan, sehingga diciptakanlah perempuan. Jadi sejak awal, mereka diciptakan di dalam konteks saling melengkapi dan saling menolong di dalam mengerjakan tugas yang maha agung dari Sang Pencipta.


Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa, mengakibatkan semuanya menjadi “terjungkir balik” dan merusak semua tatanan yang telah Allah ciptakan. Manusia menjadi menyembah alam, pepohonan atau barang ciptaan yang lain (mis : uang). Bahkan manusia bukannya mengelola alam, malahan merusaknya karena keserakahan. Dan seperti yang mengawali tulisan ini, manusia tidak lagi melihat dan menghargai manusia yang lain (lawan jenis) sebagai karya ciptaan Tuhan yang maha indah, melainkan hanya sekedar sebagai objek “pemuas” nafsunya. Tidak hanya dengan orang lain, bahkan dengan dirinya sendiripun orang seringkali tidak dapat melihat keindahan karya Tuhan. Lihat saja ada banyak orang yang mengalami krisis citra diri(baca tulisan saya tentang citra diri). Dan yang paling fundamental, yang menjadi sumber dari segala sumber bencana adalah keterpisahan manusia dengan penciptaNya.

Syukur kepada Tuhan, di dalam anugerahNya, Kristus hadir menjadi penyataan cinta Tuhan untuk membawa kita kembali kepadaNya. Kristus hadir untuk mengembalikan tatanan yang telah rusak, menjadi tatanan yang utuh dan sempurna kembali, di dalam setiap kita yang percaya. Inilah cara pandang yang benar, yang kupahami, di dalam melihat segala sesuatu, termasuk sebuah “ikatan pernikahan”.


Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari nats di atas :


  1. Tujuan hidup manusia adalah menjadi rekan kerja Allah untuk mengelola dunia (menjadikan dunia yang lebih baik)

  2. Di dalam tugas yang maha mulia itu, Allah “berempati” kepada manusia, sehingga menciptakan “perempuan” sebagai penolong yang sepadan.



Apa kemudian yang dimaksud dengan “penolong yang sepadan” di dalam sebuah ikatan pernikahan?


Di dalam NIV kata “penolong yang sepadan” adalah “helper suitable”, yang artinya tidak hanya sekedar cocok (lihat kamus Oxford), melainkan cocok/sesuai/sepadan untuk suatu tujuan tertentu dan ini yang penting. Dengan kata lain sepadan adalah se-VISI. Tentunya visi yang Tuhan taruh di dalam setiap kita, untuk menjadikan dunia yang lebih baik, dan bukan hanya sekedar memikirkan diri sendiri.


Kedua, perempuan/laki-laki yang menjadi pasangan kita (tentunya merupakan hasil dari sebuah proses yang benar di dalam Tuhan) adalah pemberian dari Tuhan karena cinta dan empatiNya, sehingga respon kita tidak lain dan tidak bukan adalah mensyukuri, mencintai dan menjaganya. Yakinlah apabila proses yang kita jalani sudah benar, dan suatu ketika ada masalah atau katakanlah kita “diputus” karena sebab yang tidak jelas (ketika masih di dalam hubungan pacaran atau bahkan sudah menikah), itu berarti pasangan kita sedang TIDAK TAAT atau MELAWAN TUHAN. Dan biarkan Tuhan yang bekerja.


Ketiga, tempatkan diri kita sebagai “sang perempuan” yang dibawa Tuhan untuk diserahkan kepada “sang lelaki”. Artinya, kita adalah MILIK PASANGAN KITA dan bukan pasangan kita yang milik kita. Di saat keduanya mengatakan dan memegang prinsip yang sama, tetap akan terjadi proses kepemilikan tetapi arah kepemilikannya berbeda dengan saat kita mengatakan “dia milikku”. Dan bayangkan betapa indah dan kuatnya hubungan yang dibangun di dalam fondasi seperti ini. Bahkan, merujuk pada point kedua, kita tidak punya hak “memutus” pasangan kita, karena kita adalah miliknya. Kita hanya akan “keluar” dari hubungan kalau pasangan kita yang “mengusir” kita. Dan ini tidak akan pernah terjadi karena kita tidak akan berani mengambil resiko untuk melawan Tuhan dan karena kita memegang prinsip yang sama.


Keempat, lihat penggalan ayat di dalam Kolose 3:18-19 berikut.


Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.


Inilah perintah Tuhan yang harus menjadi prinsip di dalam sebuah pernikahan dan yang menjadi “kepala rohani” adalah Tuhan sendiri. Selain itu, sejauh yang saya pahami, kasih yang harus kita bangun adalah kasih “agape” bukan sebatas kasih “erros”. Kasih “agape” adalah kasih yang ditunjukkan Allah kepada manusia di dalam pengorbanan Kristus. Kasih “agape” adalah kasih yang mau berkorban bagi orang yang dikasihi, sedangkan kasih “erros” adalah kasih manusia yang rapuh, liar, egois dan sangat terbatas. Kedewasaan rohani seseorang dapat diukur dari seberapa besar dia dapat memberikan kasih “agape” kepada pasangannya. Sehingga dalam hal ini, sepadan juga harus mencakup kedewasaan rohani yang sama.

Terkhusus di dalam konteks pacaran, kasih yang hanya sebatas “erros” sangatlah BERBAHAYA, karena kasih “erros” SANGAT LIAR. Kita akan sangat mudah jatuh ke dalam dosa seksual kalau tidak membangun kasih “agape”. Untuk menjaga kekudusan, kasih “erros” harus DIRANTAI dengan kasih “agape”.


Kelima, lihat penggalan ayat di dalam Matius 19 : 3 – 6 berikut.


Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."



Penggalan ayat di atas sangat jelas menegaskan, bahwa Allah tidak pernah menghendaki perceraian. Orang bisa saja bercerai, tetapi sekali lagi Allah tidak pernah menghendakinya. Bayangkan betapa sakralnya sebuah pernikahan di mata Allah!!!



Dari semua paparan ini, bagaimana kemudian kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal? Mari kita kritisi satu-persatu.


Apakah kita boleh bercerai kalau tidak punya anak?

Saya berpendapat TIDAK BOLEH!. Betul dikatakan di dalam Kejadian 1 : 28 supaya manusia beranak-cucu dan bertambah banyak. Tetapi kita tidak boleh lupa apa yang Yesus katakan di dalam Matius 19 : 3 – 6, bahwa Allah tidak menghendaki perceraian, apapun alasannya. Kedua, menurut pendapat saya (bisa saja salah) bahwa perintah beranak-cucu disampaikan pada awal penciptaan yang notabene dunia masih kosong (manusia hanya dua), yang sangat berbeda dengan kondisi dunia sekarang, yang justru membatasi jumlah manusia (program KB). Ketiga, perintah yang menurut saya lebih utama adalah menjadi rekan kerja Allah untuk melayani dunia, dan bukan untuk beranak-cucu (khususnya pada jaman ini). Keempat, seringkali yang terjadi di lapangan perceraian yang hendak dilakukan karena ketiadaan anak lebih kepada kasih yang “erros” daripada kasih “agape” (tidak mau menerima kekurangan pasangan).


Bagaimana kalau kebutuhan seksual tidak lagi terpenuhi?

Saya berpendapat, ini LEBIH TIDAK BOLEH. Betul bahwa Tuhan menciptakan seks untuk dinikmati di dalam hubungan pernikahan, tetapi sangat jelas bahwa seks bukanlah tujuan pernikahan itu sendiri. Seks, menurut saya adalah “bonus” dari hubungan pernikahan. Sehingga, salah fatal kalau seks kemudian menggantikan tujuan utama dari pernikahan itu sendiri. Seperti penjelasan pertanyaan tentang ketiadaan anak, dalam hal inipun kasih “agape” yang dikesampingkan. Dan ini adalah dosa.



Sebagai kesimpulan, Tuhan tidak pernah menghendaki perceraian. Kalau orang pernah menciptakan sebuah lagu berjudul “Endless love”, yang kita tidak tahu apakah dia orang yang takut akan Tuhan atau tidak, apalagi kita?. Dunia haus akan cinta yang tulus dan tak berakhir. Dan kitalah yang harus menjadi agen-agen Tuhan untuk memberi contoh kepada dunia, di dalam hubungan pernikahan kita masing-masing. Inilah keindahan dan keagungan sebuah ikatan pernikahan yang saya pahami. Kiranya menginspirasi dan menjadi berkat!!!



Ditulis pada tanggal 28 Juli jam 20.00

Sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya ttg “perceraian”

dengan penuh semangat untuk berbagi

Terinspirasi dari Bang TJ

Saat membawakan sesi di GKI Gejayan

dan dalam kelompok bersama Fatrik dan Syarni


Tidak ada komentar:

Posting Komentar