Saat itu aku sedang dalam perjalanan bersama adikku dari kota Jogja menuju kota Lasem, kota tempat tinggalku. Perjalanan total kami dari Jogja-Lasem menempuh waktu sekitar 7 jam, dimana kami harus berganti bus di kota Semarang, tepatnya di terminal Terboyo. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 3 sore, sehingga dapat dipastikan akan sampe malam hari di kota Lasem tercinta. Kami sampai di Semarang sekitar pukul 7 malam. Hari itu tepat tanggal 7 Juli, sehari sebelum Pemilu Capres, sehingga penumpang bis cukup padat karena arus balik. Dan kami baru mendapat bus untuk melanjutkan perjalanan ke Lasem sejam berikutnya. Waktu yang cukup lama untuk kami menunggu, ditambah perut yang sudah lapar, hiruk pikuk aktivitas terminal dan udara kotor bercampur debu yang menerpa tubuh kami. Satu-satunya yang kami harapkan ialah mendapatkan tempat duduk di bus. Kami sengaja tidak makan terlebih dahulu karena bus yang membawa kami dari Jogja ke Semarang tidak masuk ke terminal tapi hanya berhenti di pintu masuk terminal, yang jaraknya cukup jauh dari terminal. Jadi pikir kami, cukuplah kami menunggu bus di tempat ini dan menahan lapar 3 jam-an lagi.
Bersyukur akhirnya bus yang kami tunggu akhirnya datang juga, setelah kami memutuskan sambil berjalan menuju terminal dengan harapan nantinya mendapatkan tempat duduk. Sambil berjalan, aku melihat seorang wanita yang entah kemana tujuannya tapi yang jelas searah dengan kami berjalan sendiri, hati kecilku merasa kasihan melihat wanita tersebut. Seorang wanita yang berada di terminal pada malam hari sendirian, meski ada banyak orang lain di sekitarnya, cukup berbahaya menurutku. Mengingat di tempat tersebut sering terjadi tindak kriminalitas dan aku pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Waktu itu aku bersama seorang teman wanitaku, saat seorang pengamen berusaha menyikutku karena aku tidak memberikan uang receh. Bukan karena tidak mau memberi tapi memang tidak ada uang kecil saat itu. Ahhhhh…kuajak bareng saja wanita ini pikirku. Tapi saat aku melewatinya, aku merasa enggan sehingga aku tidak jadi menawarinya. Tetapi tetap saja saat aku berjalan beberapa kali aku menolah ke belakang, tanda penyesalanku kenapa tidak menawarinya saat melewatinya barusan. Syukurlah setelah berjalan beberapa meter dari wanita tersebut, bus yang kami tunggu datang juga dan kami beserta wanita tersebut naik bersama. Aku mempersilakan dia naik duluan tentunya. Ladies first begitulah intinya!! Dan kami semua mendapat tempat duduk, meski terpencar. Perjalanan ke kota tercintapun dimulai.
Aku duduk di barisan tengah dan pada posisi tengah. Sebelah kananku dekat jendela seorang pria seumuranku dan sebelah kanan seorang wanita berjilbab 20 tahun. Aku tahu usia wanita tersebut karena kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar saat menolong wanita tersebut menata barangnya tepat di depan tempat dudukku. Setelah pembicaraan singkat kami, aku merebahkan tubuhku ke tempat duduk, mencoba untuk tidur. Tetapi karena padatnya penumpang dan jalan yang kami lalui banyak yang rusak, membuatku sulit untuk tidur. Beberapa menit kemudian, sekitar 30 menit, penumpang semakin padat dan berhimpit-himpitan. Kulihat seorang wanita yang kebetulan berjilbab juga berdiri dekat tempat dudukku. Awalnya kupikir dia bisa bertahan berdiri sampai tujuan, karena toh usianya seumuranku juga dan ada banyak wanita lain yang berdiri juga. Tetapi beberapa saat setelah aku berpikir demikian, wanita ini berusaha jongkok di lorong bus, beberapa kali berdiri kembali karena kondektur yang lalu lalang meminta ongkos. Saat kulihat kembali wanita tersebut, aku tergerak untuk memberikan tempat dudukku. Beberapa menit berpikir, aku tahu bahwa perjanananku masih sekitar 2,5 jam-an lagi, tapi kutahu juga bahwa wanita tersebut kelelahan. Ada konflik di dalam diriku, antara ego dan kasih. Bersyukur karena kemudian kuputuskan untuk memberikan tempat dudukku tersebut, dan entah kenapa, aneh sekali, hatiku senang sekali setelah memberikan tempat duduk tersebut. Setelah itu, sambil berdiri, kupandangi wajah wanita tersebut yang begitu cepat sudah terlelap karena kelelahan. Hatiku bertambah senang, karena kutahu, aku sudah melakukan hal yang benar.
Perjalanan berlanjut, dan tiba-tiba tepat di depan tempat duduk yang kuberikan kepada wanita tersebut ada seorang pria 20 tahun-an memberikan tempat duduknya juga kepada seorang bapak 50 tahun-an. Kemudian kami berdiri berhadapan di lorong bus. Keinginan-tahuku sangat besar untuk mengetahui alasan apa yang membuat pria ini memberikan tempat duduknya. Saat kutanya, kutahu bahwa alasan dia adalah karena “kasihan” melihat perban yang ada di tangan kanan bapak tersebut. Dia memperkirakan bahwa bapak tersebut baru saja keluar dari rumah sakit, dan perban tersebut adalah bekas infuse. Terlepas dari salah tidaknya perkiraan pria tersebut, tapi kulihat bahwa dia mengasihi bapak tersebut. Hanya karena kasih.
Pembicaraan kamipun berlanjut, sampai kutahu kalo pria tersebut adalah seorang Muslim, seorang mahasiswa tahun pertama fakultas Hukum UNDIP. Kami melanjutkan pembicaraan kami yang bersahabat, sampai-sampai pria ini bercerita tentang kondisi keluarganya, konflik dengan orangtuanya. Akupun berusaha mendengarkan dengan seksama, mencoba memberinya solusi bahwa dia harus tetap menghormati ayah dan ibunya, bagaimanapun perilaku mereka. Pembicaraan kami berakhir beberapa menit saat bus hampir sampai di kota Lasem, kota tujuanku. Sebelumnya kami bertukar no telpon, menyalaminya, dan mengatakan kalau ingin ngobrol lebih lanjut denganku silakan menghubungi no telponku.
Bus kemudian berhenti di jalan masuk rumahku, kamipun turun. Saat kami berjalan menuju ke rumah, aku merenung dan berpikir. Aku senang sekali melewati perjalananku dari Jogja ke Lasem. Aku banyak belajar tentang apa itu kasih. Aku bersyukur ada orang lain, selain aku, yang mau berbagi kasih juga. Kasih membutuhkan sebuah pengorbanan. Kasih mematikan ego kita dan kasih menembus segala perbedaan yang ada.
Ada banyak “pagar” di sekitar kita. Pagar-pagar itu membatasi kita dengan orang lain, dan memaksa kita untuk lebih banyak memikirkan diri kita sendiri, keluarga kita, suku kita atau bahkan kelompok agama kita sendiri. Pertanyaan buat kita : Maukah kita menembus pagar itu?
Ditulis pada tanggal 9 Juli 2009, sehari setelah Pemilu
Jam 20:58 WIB
Saat sedang lapar, tapi otakku kekenyangan menyimpan memori kisah kasih ini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar