Sorot matanya masih tajam, tetapi seluruh rambutnya sudah memutih. Badannya masih sehat dan tegap, tetapi hatinya hancur karena kesedihan yang mendalam. Rumah mungil yang indah berhiaskan taman bunga kini sudah tak terawat lg, debu ada di mana-mana. Bahkan ruang tamu yang dulu selalu menyambutku saat berkunjung kini berubah menjadi sebuah kantor karena disewakan. Hatiku pilu.
Itulah perasaanku saat minggu lalu mengunjungi seorang bapak yang kukenal sangat dekat, yang sedang menghadapi ujian kehidupan yang begitu hebat. Dikianati oleh istri yang telah mendampinginya selama lebih dari 27 tahun.
Terakhir bertemu bapak ini sekitar 4 tahun yang lalu. Keluarga yang bahagia saat itu. Aku mengenal keluarga ini sangat dekat karena sejak kecil aku dijadikan anak angkat oleh mereka saat mereka belum memiliki anak setelah 8 tahun menikah. Saat itu masi kuingat, meski mereka sudah memiliki anak yang pertama, aku selalu dibelikan baju saat lebaran tiba, atau uang saat mereka berkunjung ke rumah. Sampai-sampai waktu kecil aku mengalami kebingungan, karena semua orang mengatakan mereka juga adalah orang tuaku. Jadi siapa orang tuaku sebenarnya? Inilah gambaran kedekatanku dengan mereka, bahkan ketiga anak mereka sejak kecil diajari supaya memanggilku “Koko”. Sebuah panggilan Chinese yang menunjukkan kedekatan kami yang menembus perbedaan ras kami.
Berita kesedihan ini kudengar dari mamaku, beberapa bulan yang lalu, meski masalah yang dihadapi keluarga ini sudah terjadi sejak satu tahun-an yang lalu. Waktu itu bapak mengalami sakit “kanker prostate” dan harus dirawat hampir 6 bulan di sebuah Rumah Sakit, di Semarang. Kanker ini memaksa sang dokter harus mengambil buah pelirnya dan mengakibatkan gangguan fungsi seksual sang bapak. Bapak mengalami impotensi selama beberapa bulan, meski dokter mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu dan dengan berbagai terapi atau obat-obatan, kondisi bapak akan pulih. Bapak dan ibu menerima kondisi ini pada saat itu. Tetapi ternyata apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang ada di hati. Nafsu dan kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi, membuat ibu begitu mudah tergoda oleh pria lain. Seorang wanita, teman lama ibu yang sejak dulu katanya “nakal” menggoda ibu untuk mencari kepuasan dari pria yang lain, dan wanita ini berjanji untuk memfasilitasinya. Dalam kondisi yang “terbius” oleh kebutuhan seksualitas yang tak terpuaskan, sang ibu tak berdaya, dan setuju untuk mengikuti saran teman lamanya. Konspirasipun dimulai, dan pengkianatan pun terjadi. Dengan seorang lelaki setengah baya, seorang pengangguran. Dan sudah dimulai sejak bapak masih terbaring di Rumah Sakit.
Gelagat yang aneh dari ibu ternyata tercium juga oleh bapak. Awalnya beliau tak percaya, sama denganku saat pertama kali mendengar kisah ini. Mengetahui bahwa bapak dan ibu adalah seorang Haji dan Hajah, membuat kebanyakan orang juga pasti tidak akan percaya mendengar kisah ini. Namun fakta tetaplah sebuah fakta.
Beberapa waktu berlalu, semenjak kecurigaan itu. Sampai akhirnya semuanya terbongkar. Dan ibu tetap pada pendiriannya. Banyak orang beranggapan bahwa ibu telah di”guna-guna”. Entah apa yang membuat ibu sebegitu “nekat”nya, tapi bagiku itulah hebatnya “dosa seksual”. Itulah hebatnya ‘’Iblis”. Bahkan semua keluarga besar ibu dan bapak tak lagi didengar, bahkan suara hati anak-anaknya sekalipun. Dalam hati kemudian aku bertanya : Tuhan apa yang terjadi?
Beberapa jam aku duduk berdua dengan bapak untuk mendengarkan kisah ini, seminggu lalu. Kutatap matanya yang tetap tajam dan seakan sudah begitu kuat dan tak punya lagi air mata. Justru air mataku yang tak kuat lagi kutahan. Beliau bercerita, dirinya harus kuat untuk ketiga anaknya, terutama untuk anaknya terkecil yang masih SMP. Untuk itu beliau selalu taat mengerjakan shalat 5 waktu, bahkan puasa tiap 2 hari, belajar dari Nabi Daud katanya. Bahkan di dalam ketegarannya, beliau masih bersedia menerima istrinya yang telah mengkianatinya, mempermalukan keluarganya sendiri, menjual kehormatannya sendiri, bahkan menghabiskan hampir 200 juta tabungan keluarga untuk pria itu. Lebih parah lagi ibu memaksa bapak untuk menjual rumah dan menceraikannya supaya ibu bisa menikah dengan “selingkuhannya” tersebut.
Terus kutatap mata sang bapak saat menceritakan detail kejadian demi kejadian, bahkan SMS-SMS yang dituliskan satu sama lain. Bapak begitu baik, begitu penuh rasa sayang, dan begitu bijak. Tetapi tetap saja bisa kulihat kesedihan yang begitu luar biasa dari sorot matanya yang tajam itu. Di dalam kepahitannya itu, beliau pernah berkata pada anak-anaknya untuk tidak menangisi ibu mereka kalau terjadi apa-apa dengannya, karena beberapa waktu sebelumnya sang ibu mengalami kecelakaan dengan sepeda motornya.
Aku berusaha memahami luka bapak, yang masih sulit kucerna. Sang bapak masih bersikeras tidak akan melepas ibu meski sudah berperkara di pengadilan sampe 9 kali dan dimuat oleh surat kabar setempat karena mereka berdua adalah PNS (ibu seorang guru SMP), kecuali anak ketiga mereka lulus SMA kata bapak. Sungguh bijak menurutku. Keluarga ini sungguh-sungguh di ambang kehancuran. Nasi telah menjadi bubur. Luka sudah terlalu lebar. Ketiga anaknyapun kecuali yang paling kecil, menyerahkan segala keputusan di tangan bapaknya.
Terus kutatap mata bapak yang tajam itu, sambil sesekali menikmati kacang kedelai yang disuguhkan yang beberapa kali ditawarkan di sela-sela ceritanya. Kemudian bapak melanjutkan bahwa akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan bagian depan rumahnya untuk mencukupi biaya hidup dan sekolah ketiga anaknya, yang hanya sebagian kecil saja dibantu sang ibu. Gaji pensiun bapak yang beliau katakan hanya 2 juta tidak cukup. Ditambah lagi anak pertama yang telah menikah tetapi belum memiliki pekerjaan yang tetap sebagai seorang Insinyur Sipil.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah jam 15.30 dan sudah 2 jam bapak bercerita. Beliau meminta ijin untuk shalat dulu dan kemudian aku menikmati buah apel yang bapak ambilkan. Aku kemudian meminta ijin untuk melihat-lihat sekeliling rumah bagian belakang. Pikiranku melayang ke tahun-tahun dulu, saat keluarga ini masih utuh. Kucoba kembali mencerna semua yang telah kudengar. Sulit Tuhan, sangat sulit. Sangat kejamnya dosa seksual, sangat kejam. Mungkin saat ini, Iblis beria-ria melihat kehancuran keluarga ini. Hatiku sangat pilu.
Bapak selesai shalat dan kami kembali ngobrol, tetapi hal-hal di luar masalahnya. Kemudian aku minta ijin untuk berkunjung ke rumah teman SMAku. Bapak memaksaku membawa motornya, meski sudah beberapa kali kutolak. Tapi tak apalah pikirku, sekalian nanti bisa sedikit memberikan kata-kata dukungan kepada bapak saat mengembalikan motornya. Dan aku bisa mensharingkan dengan temanku dulu dan meminta saran darinya, apa yang harus kukatakan.
Setelah hampir dua jam aku berkunjung ke rumah teman lamaku, aku kembali. Saat itu pukul 19.00. Bapak mengatakan telah mencoba menghubungiku, tapi handponeku mati. Waduh…maaf pak, kataku. Beliau membalas “tak apa”, beliau hanya kawatir aja pungkasnya, yang sampe menelpon ke rumah, takutnya aku dari rumah temanku langsung membawa motornya pulang. Karena sebelumnya bapak mengatakan silakan aja kalau mau bawa ke Lasem (jarak sekitar 12 km dari kota Rembang), tetapi kutolak. Kemudian, aku diantar bapak ke terminal untuk pulang. Sebelumnya aku berpamitan dengan “adik angkatku” yang terkecil. (dua anak yang lain bekerja dan kuliah di Jogja). Beliau mau sekalian membelikan lauk untuk anak terkecilnya katanya.
Sepanjang jalan aku berpikir, kata-kata terakhir apa yang harus kuucapakan kepada pria 65 tahunan ini. Di dalam ketegaran dirinya. Terdapat luka yang begitu dalam kepada istri yang telah mendampinya lebih dari 27 tahun, yang usianya 13 tahun lebih muda. Aku takut salah berkata-kata.
Kamipun sampai di terminal. Kuberanikan diriku untuk mengatakan sesuatu yang sudah kusiapkan sepanjang perjalanan. Saat aku turun dan bapak masih di atas motor, kucium kedua pipi pria tua ini. Kupegang erat-erat bahunya, sambil kukatakan “”Pak, tetap kuat ya…demi anak-anak” dan beliau mengatakan “Iya, terima kasih”.
Akupun pulang naik bus. Dan kisah ini masih sangat menggangguku. Aku ingin menolong, tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Saat Iblis menguasai sesorang, dia tidak segan-segan menghancurkannya. Bahkan pernikahan suci yang telah dibangun lebih dari 27 tahun sekalipun.
Ditulis karena sebuah kegelisahan, dan dengan sebuah pertanyaan inti :
“Apa tujuan sebuah pernikahan???Kepuasan seksualkah?
Atau anak? Bagaimana kalau tidak ada anak???”
Thx buat kakak2 yang telah mengajarkan kepadaku nilai-nilai tersebut,
Jauh-jauh hari sebelum aku menjalaninya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar