Aku dibesarkan di keluarga yang sangat mengagung-agungkan uang. Uang adalah segala-galanya karena tanpa uang hidup kita akan menderita dan tidak akan bahagia. Kupikir kebanyakan orang akan berpikir hal yang sama.Uang memang penting, bahkan sangat penting tapi uang bukanlah segala-galanya. Kebahagian kita tidak bergantung dari berapa banyak uang yang kita miliki. Hal ini sudah kubahas dalam tulisanku berjudul “ARTI PENTING SEBUAH PEKERJAAN”. Sedikit menambahkan, orang bijak pernah berkata demikian :
Uang adalah hamba yang menakjubkan,
tetapi tuan yang mengerikan.
Kata-kata di atas sangat dalam maknanya kalau kita mau merenungkannya lebih lanjut, tetapi pada tulisan ini aku tidak sedang ingin membahas hal tersebut. Yang ingin kubahas pada tulisan ini adalah “bagaimana cara mendapatkan uang tersebut?”.
Cara mendapatkan uang tentu saja dengan bekerja. Tetapi bekerja seperti apa?
Sejak kecil aku berpikir profesi “dokter” adalah profesi yang menjanjikan yang dapat dengan mudah mendapatkan banyak uang. Tetapi kalaupun tidak menjadi seorang dokter, menjadi insinyur pun juga menjanjikan kalau aku bisa bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang bonafit apalagi di perusahaan asing. Itulah pemikiranku sejak dulu sampai tepat sebulan yang lalu.
Begini kisahnya…
Bulan lalu saat aku baru tiba di Surabaya, setelah 3 bulan ada di Papua, aku membeli dan membaca sebuah buku berjudul “Quantum Leap” karangan Ir. Ciputra. Aku membeli buku ini, selain karena aku suka membaca, juga karena mendapat rekomendasi dari saudaraku yang mengatakan kisah hidup pak Ciputra sangatlah inspiratif dan pemikiran beliau tentang entrepreneurship sangatlah menarik. Jadi sudah sejak lama aku mencari buku ini…
Seorang entrepreneur, beliau mengatakan, adalah seorang yang mampu mengubah “kotoran dan rongsokan” menjadi “emas”. Setidaknya itulah yang menjadi filosofi beliau dan terbukti bagaimana beliau dapat mengubah dan mengembangkan kawasan Ancol seperti sekarang ini dan nama beliau tertulis di tugu Ancol. Seorang entrepreneur tidak selalu seorang pedagang, karena selain mungkin usaha tersebut adalah hasil warisan, juga pedagang seringkali ialah seorang yang mengambil untung dari margin barang yang ia beli dan jual. Dan itu bukanlah konsep entrepreneur yang pak Ci tawarkan. Bagi beliau seorang entrepreneur adalah seorang yang mampu melihat atau dengan sengaja menciptakan peluang, memberi nilai tambah dari barang atau jasa yang kemudian ia tawarkan ke pasar, Seorang entrepreneur sejati, beliau mengatakan, saat ia jatuh 10 kali, ia bisa bangkit 11 kali. Mungkin pemikiran ini sudah sering kita dapatkan, bahkan di seminar-seminar sering membahas hal ini.
Tetapi sesuatu yang membuat aku gelisah adalah saat pak Ci mengatakan bahwa
“Kalau Anda seorang sarjana yang tidak memiliki kemampuan entrepreneur, siaplah mengantri pekerjaan”.
Yang membuatku gelisah bukan hanya karena aku harus mengantri pekerjaan, tetapi saat aku mengetahui bahwa tingkat pengangguran di negara kita terlalu tinggi, bahkan pengangguran-pengangguran terdidik. Lapangan pekerjaan sampai saat ini tidak mungkin mampu menampung semua tenaga kerja di negeri ini. Kemudian beberapa waktu ketika pemikiran ini masih menggangguku,saat aku melamar dan test kerja, aku mencoba memperhatikan tiap teman yang menjadi kompetitorku, dan kemudian dalam hati aku berkata
“Ya Tuhan, aku tidak menjadi solusi bagi mereka, tetapi justru menjadi saingan mereka”.
Kegelisahan ini muncul begitu saja, saat dimana aku mencari kerja. Jujur kukatakan sampai saat inipun aku masih belum mampu untuk menjadi seorang entrepreneur, selain karena masalah skill, juga karena modal. Saat kuevaluasi diriku, aku mendapati selain karena memang aku tidak dibesarkan di dalam lingkungan entrepreneur, juga karena pendidikan kita hanyalah mencetak “pencari-pencari kerja”, bukan “pencipta kerja”. Apalagi kalau kita perhatikan, pendidikan di negara kita yang cenderung mendukung peningkatan jumlah SMK daripada focus dengan ide pak Ci untuk membuat sekolah-sekolah dan universitas yang mendidik para calon entrepreneur. Bahkan pak Ci sudah merintis beberapa sekolah dari TK sampai Universitas untuk focus menghasilkan entrepreneur-entrepreneur muda. Sekolah ini tidak tanggung-tanggung dalam membuat kurikulum, selain mereka dilatih terjun langsung ke lapangan, di universitas juga ada pendampingan mentor-mentor yang memang seorang entrepreneur betulan, seperti layaknya sekolah kedokteran yang didampingi dokter betulan saat co-ass. Metodenya sangat mirip dengan sekolah kedokteran. Bahkan pak ci juga mengaharapkan keterlibatan pemerintah untuk menjadi perantara dan pembuka kesempatan bagi mereka, baik dalam hal regulasi maupun permodalan. Benar-benar menarik, karena sebelumnya pak Ci membukakan akan pentingnya keseimbangan antara pencari kerja dengan pencipta kerja. Beliau mengungkapkan bahwa di negara-negara maju seperti contohnya Amerika Serikat, perbandingan antara pencari dan pencipta kerja tidak terlalu tinggi seperti di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Intinya, bahkan sangat mudah masuk dalam logika kita, bahwa keseimbangan keduanya menjadi kunci kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kita.
Seorang kewarganegaraan Bangladesh bernama Muhammad Yunus yang mendapatkan nobel perdamaian, karena perjuangan dan keberhasilan beliau dalam mengentaskan ribuan orang Bangladesh dari kemiskinan dan kelaparan dengan cara memberi mereka modal untuk berusaha, adalah bukti bahwa entrepreneurship adalah solusi pengurangan pengangguran di Indonesia. Seorang entrepreneur selain dia dapat menghidupi dirinya sendiri (tidak menjadi beban orang lain), juga sangat mungkin untuk menolong orang lain baik dari sisi permodalan maupun dalam penyedian lapangan pekerjaan.
Peningkatan jumlah SMK menurutku menunjukkan bahwa bukannya solusi ini yang coba diterapkan oleh pemerintah tetapi justru hanya mencetak para pencari kerja yang handal, punya skill dan siap kerja. Dan tetap saja, selama lapangan kerja hanya terbatas seperti sekarang, pengangguran tetap akan ada.
Dulu aku pernah berpikir “picik” bahwa mereka-mereka yang mejadi entrepreneur adalah orang-orang yang “mata duitan”, yang hanya berorientasi pada uang. Tetapi saat aku dibukakan tentang kondisi negara kita bahkan kondisi dunia yang faktanya ada begitu banyak pengangguran dan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan, aku kemudian tergugah untuk menjadi seorang entrepreneur meski bukan saat ini karena segala kondisi yang ada. Tapi setidaknya inilah mimpiku jangka panjang nanti. Entrepreneurship setidaknya menjadi salah satu solusi vital perbaikan kehidupan masyarakat kita.
Saat aku membeli buku tentang kisahnya Muhammad Yunus, awalnya aku bingung saat membaca cover buku tersebut karena dituliskan bahwa beliau mendapatkan nobel perdamaian. Bukankah beliau berjuang dalam bidang ekonomi, tetapi mengapa justru nobel perdamaian yang beliau dapatkan dan bukan nobel ekonomi?
Ternyata ini terjawab saat aku membaca bagian akhir kisahnya, yaitu catatan pidatonya saat mendapatkan penghargaan yang sangat bergengsi ini. Beliau mengatakan bahwa tidak terlalu sulit baginya untuk mengkaitkan kriminalitas, terorisme bahkan perang antar negara dengan kemiskinan yang coba beliau berantas dalam perjuangannya. Setelah itu aku baru mengerti.
Pak Ciputra dan Muhammad Yunus adalah dua tokoh penting yang menginspirasiku akan pentingnya semakin benyak orang yang mau berpikir jauh ke depan untuk bersama-sama menolong lebih banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi melalui dunia entrepreneurship.
Tetapi sore tadi, baru saja aku mengikuti sebuah seminar dengan tema “entrepreneurship” yang memberikanku nilai-nilai yang harus dimiliki sebagai seorang entrepreneur Kristen. Pembicara adalah seorang yang menjadi entrepreneur dalam bidang telekomunikasi, dalam hal ini adalah handpone, di kota Solo. Beliau bernama Joko. Dari penampilannya, pak Joko adalah seorang yang sangat sederhana. Sehingga mohon maaf kalau sebelumnya aku sedikit meragukan kompetensi beliau sebagai pembicara dan ternyata aku salah. Beberapa nilai-nilai yang coba dibagikan sangatlah mendasar, sebagai berikut :
Milikilah hati yang melayani (baik terhadap anak buah maupun pelanggan)
Jujur
Jangan menetapkan margin yang terlalu rendah atau terlalu tinggi
Tetapkan standar hidup yang tegas
Kalau terpaksa berhutang, jangan melebihi asset yang kita miliki
Jangan mengambil untung dari kerugian orang lain
Inilah beberapa dari sekian banyak point yang dibagikan, yang sangat menolongku dalam bersikap sebagai seorang entrepreneur nantinya.
Saat ada sesi tanya jawab, ada seorang teman yang bercerita bahwa dia sekarang sedang merintis usaha jual pulsa handpone dan tambal ban. Waktunya masih lebih banyak ia curahkan untuk usaha jual pulsa meski sudah memiliki beberapa karyawan, tapi yang menarik ialah ia juga mempunyai ide untuk membuka tambal ban. Ia memberi modal yang relatif kecil kepada orang yang tidak mampu untuk bekerja sebagai penambal ban, meski keuntungan yang didapat oleh temanku ini juga relatif lebih kecil dibanding si bapak ini, tetapi ia sangat senang karena bisa menolong orang lain. Inilah semangat yang harus kita miliki sebagai anak-anak Tuhan, khususnya yang ingin terjun dalam dunia entrepreneurship. Hidup untuk berbagi!
Ditulis pada tanggal 5 Juli 2009 tepat pukul 00.00
Saat sudah mengantuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar