Selasa, 28 Juli 2009

KEAGUNGAN SEBUAH PERNIKAHAN


Bagi setiap kita yang akan menikah ataupun merencanakan untuk menikah, hendaknya terlebih dulu dapat menjawab pertanyaan ini : Apa tujuan kita menikah? Untuk menghasilkan keturunankah? Atau memuaskan kebutuhan seksual kita? Atau sekedar mengikuti proses hidup, lahir, tumbuh besar, menikah, punya anak, punya cucu trus MATI? Pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana kalau kita tidak punya anak dalam pernikahan, apakah kita bercerai saja? Atau bagaimana bila kepuasan seksual kita tidak lagi terpenuhi dalam pernikahan, apakah cari pasangan yang lain, trus selingkuh begitu? Apa bedanya kita dengan binatang kalau begitu, yang hidupnya hanya untuk kawin dan punya anak, kawin lagi punya anak lagi dan seterusnya? Kalau hanya sebatas itu tujuannya, dimanakah letak kesakralan dan keagungan sebuah pernikahan?


Sejak awal dunia diciptakan, Tuhan berfirman demikian :


TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kejadian 2 : 15 – 24


Sejak awal penciptaan, manusia adalah makhluk yang paling mulia dari semua ciptaan. Manusia lebih mulia daripada alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia bahkan diciptakan sebagai rekan kerja Allah untuk mengusahakan dan memelihara taman eden (dunia ciptaan).

Di dalam tugas yang maha mulia itu, Tuhan “berempati” kepada manusia (pria) yang tidak memiliki penolong yang sepadan dari semua ciptaan, sehingga diciptakanlah perempuan. Jadi sejak awal, mereka diciptakan di dalam konteks saling melengkapi dan saling menolong di dalam mengerjakan tugas yang maha agung dari Sang Pencipta.


Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa, mengakibatkan semuanya menjadi “terjungkir balik” dan merusak semua tatanan yang telah Allah ciptakan. Manusia menjadi menyembah alam, pepohonan atau barang ciptaan yang lain (mis : uang). Bahkan manusia bukannya mengelola alam, malahan merusaknya karena keserakahan. Dan seperti yang mengawali tulisan ini, manusia tidak lagi melihat dan menghargai manusia yang lain (lawan jenis) sebagai karya ciptaan Tuhan yang maha indah, melainkan hanya sekedar sebagai objek “pemuas” nafsunya. Tidak hanya dengan orang lain, bahkan dengan dirinya sendiripun orang seringkali tidak dapat melihat keindahan karya Tuhan. Lihat saja ada banyak orang yang mengalami krisis citra diri(baca tulisan saya tentang citra diri). Dan yang paling fundamental, yang menjadi sumber dari segala sumber bencana adalah keterpisahan manusia dengan penciptaNya.

Syukur kepada Tuhan, di dalam anugerahNya, Kristus hadir menjadi penyataan cinta Tuhan untuk membawa kita kembali kepadaNya. Kristus hadir untuk mengembalikan tatanan yang telah rusak, menjadi tatanan yang utuh dan sempurna kembali, di dalam setiap kita yang percaya. Inilah cara pandang yang benar, yang kupahami, di dalam melihat segala sesuatu, termasuk sebuah “ikatan pernikahan”.


Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari nats di atas :


  1. Tujuan hidup manusia adalah menjadi rekan kerja Allah untuk mengelola dunia (menjadikan dunia yang lebih baik)

  2. Di dalam tugas yang maha mulia itu, Allah “berempati” kepada manusia, sehingga menciptakan “perempuan” sebagai penolong yang sepadan.



Apa kemudian yang dimaksud dengan “penolong yang sepadan” di dalam sebuah ikatan pernikahan?


Di dalam NIV kata “penolong yang sepadan” adalah “helper suitable”, yang artinya tidak hanya sekedar cocok (lihat kamus Oxford), melainkan cocok/sesuai/sepadan untuk suatu tujuan tertentu dan ini yang penting. Dengan kata lain sepadan adalah se-VISI. Tentunya visi yang Tuhan taruh di dalam setiap kita, untuk menjadikan dunia yang lebih baik, dan bukan hanya sekedar memikirkan diri sendiri.


Kedua, perempuan/laki-laki yang menjadi pasangan kita (tentunya merupakan hasil dari sebuah proses yang benar di dalam Tuhan) adalah pemberian dari Tuhan karena cinta dan empatiNya, sehingga respon kita tidak lain dan tidak bukan adalah mensyukuri, mencintai dan menjaganya. Yakinlah apabila proses yang kita jalani sudah benar, dan suatu ketika ada masalah atau katakanlah kita “diputus” karena sebab yang tidak jelas (ketika masih di dalam hubungan pacaran atau bahkan sudah menikah), itu berarti pasangan kita sedang TIDAK TAAT atau MELAWAN TUHAN. Dan biarkan Tuhan yang bekerja.


Ketiga, tempatkan diri kita sebagai “sang perempuan” yang dibawa Tuhan untuk diserahkan kepada “sang lelaki”. Artinya, kita adalah MILIK PASANGAN KITA dan bukan pasangan kita yang milik kita. Di saat keduanya mengatakan dan memegang prinsip yang sama, tetap akan terjadi proses kepemilikan tetapi arah kepemilikannya berbeda dengan saat kita mengatakan “dia milikku”. Dan bayangkan betapa indah dan kuatnya hubungan yang dibangun di dalam fondasi seperti ini. Bahkan, merujuk pada point kedua, kita tidak punya hak “memutus” pasangan kita, karena kita adalah miliknya. Kita hanya akan “keluar” dari hubungan kalau pasangan kita yang “mengusir” kita. Dan ini tidak akan pernah terjadi karena kita tidak akan berani mengambil resiko untuk melawan Tuhan dan karena kita memegang prinsip yang sama.


Keempat, lihat penggalan ayat di dalam Kolose 3:18-19 berikut.


Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.


Inilah perintah Tuhan yang harus menjadi prinsip di dalam sebuah pernikahan dan yang menjadi “kepala rohani” adalah Tuhan sendiri. Selain itu, sejauh yang saya pahami, kasih yang harus kita bangun adalah kasih “agape” bukan sebatas kasih “erros”. Kasih “agape” adalah kasih yang ditunjukkan Allah kepada manusia di dalam pengorbanan Kristus. Kasih “agape” adalah kasih yang mau berkorban bagi orang yang dikasihi, sedangkan kasih “erros” adalah kasih manusia yang rapuh, liar, egois dan sangat terbatas. Kedewasaan rohani seseorang dapat diukur dari seberapa besar dia dapat memberikan kasih “agape” kepada pasangannya. Sehingga dalam hal ini, sepadan juga harus mencakup kedewasaan rohani yang sama.

Terkhusus di dalam konteks pacaran, kasih yang hanya sebatas “erros” sangatlah BERBAHAYA, karena kasih “erros” SANGAT LIAR. Kita akan sangat mudah jatuh ke dalam dosa seksual kalau tidak membangun kasih “agape”. Untuk menjaga kekudusan, kasih “erros” harus DIRANTAI dengan kasih “agape”.


Kelima, lihat penggalan ayat di dalam Matius 19 : 3 – 6 berikut.


Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."



Penggalan ayat di atas sangat jelas menegaskan, bahwa Allah tidak pernah menghendaki perceraian. Orang bisa saja bercerai, tetapi sekali lagi Allah tidak pernah menghendakinya. Bayangkan betapa sakralnya sebuah pernikahan di mata Allah!!!



Dari semua paparan ini, bagaimana kemudian kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal? Mari kita kritisi satu-persatu.


Apakah kita boleh bercerai kalau tidak punya anak?

Saya berpendapat TIDAK BOLEH!. Betul dikatakan di dalam Kejadian 1 : 28 supaya manusia beranak-cucu dan bertambah banyak. Tetapi kita tidak boleh lupa apa yang Yesus katakan di dalam Matius 19 : 3 – 6, bahwa Allah tidak menghendaki perceraian, apapun alasannya. Kedua, menurut pendapat saya (bisa saja salah) bahwa perintah beranak-cucu disampaikan pada awal penciptaan yang notabene dunia masih kosong (manusia hanya dua), yang sangat berbeda dengan kondisi dunia sekarang, yang justru membatasi jumlah manusia (program KB). Ketiga, perintah yang menurut saya lebih utama adalah menjadi rekan kerja Allah untuk melayani dunia, dan bukan untuk beranak-cucu (khususnya pada jaman ini). Keempat, seringkali yang terjadi di lapangan perceraian yang hendak dilakukan karena ketiadaan anak lebih kepada kasih yang “erros” daripada kasih “agape” (tidak mau menerima kekurangan pasangan).


Bagaimana kalau kebutuhan seksual tidak lagi terpenuhi?

Saya berpendapat, ini LEBIH TIDAK BOLEH. Betul bahwa Tuhan menciptakan seks untuk dinikmati di dalam hubungan pernikahan, tetapi sangat jelas bahwa seks bukanlah tujuan pernikahan itu sendiri. Seks, menurut saya adalah “bonus” dari hubungan pernikahan. Sehingga, salah fatal kalau seks kemudian menggantikan tujuan utama dari pernikahan itu sendiri. Seperti penjelasan pertanyaan tentang ketiadaan anak, dalam hal inipun kasih “agape” yang dikesampingkan. Dan ini adalah dosa.



Sebagai kesimpulan, Tuhan tidak pernah menghendaki perceraian. Kalau orang pernah menciptakan sebuah lagu berjudul “Endless love”, yang kita tidak tahu apakah dia orang yang takut akan Tuhan atau tidak, apalagi kita?. Dunia haus akan cinta yang tulus dan tak berakhir. Dan kitalah yang harus menjadi agen-agen Tuhan untuk memberi contoh kepada dunia, di dalam hubungan pernikahan kita masing-masing. Inilah keindahan dan keagungan sebuah ikatan pernikahan yang saya pahami. Kiranya menginspirasi dan menjadi berkat!!!



Ditulis pada tanggal 28 Juli jam 20.00

Sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya ttg “perceraian”

dengan penuh semangat untuk berbagi

Terinspirasi dari Bang TJ

Saat membawakan sesi di GKI Gejayan

dan dalam kelompok bersama Fatrik dan Syarni


Selasa, 21 Juli 2009

KISAH TRAGIS PENGKHIANATAN PERNIKAHAN


Sorot matanya masih tajam, tetapi seluruh rambutnya sudah memutih. Badannya masih sehat dan tegap, tetapi hatinya hancur karena kesedihan yang mendalam. Rumah mungil yang indah berhiaskan taman bunga kini sudah tak terawat lg, debu ada di mana-mana. Bahkan ruang tamu yang dulu selalu menyambutku saat berkunjung kini berubah menjadi sebuah kantor karena disewakan. Hatiku pilu.

Itulah perasaanku saat minggu lalu mengunjungi seorang bapak yang kukenal sangat dekat, yang sedang menghadapi ujian kehidupan yang begitu hebat. Dikianati oleh istri yang telah mendampinginya selama lebih dari 27 tahun.

Terakhir bertemu bapak ini sekitar 4 tahun yang lalu. Keluarga yang bahagia saat itu. Aku mengenal keluarga ini sangat dekat karena sejak kecil aku dijadikan anak angkat oleh mereka saat mereka belum memiliki anak setelah 8 tahun menikah. Saat itu masi kuingat, meski mereka sudah memiliki anak yang pertama, aku selalu dibelikan baju saat lebaran tiba, atau uang saat mereka berkunjung ke rumah. Sampai-sampai waktu kecil aku mengalami kebingungan, karena semua orang mengatakan mereka juga adalah orang tuaku. Jadi siapa orang tuaku sebenarnya? Inilah gambaran kedekatanku dengan mereka, bahkan ketiga anak mereka sejak kecil diajari supaya memanggilku “Koko”. Sebuah panggilan Chinese yang menunjukkan kedekatan kami yang menembus perbedaan ras kami.

Berita kesedihan ini kudengar dari mamaku, beberapa bulan yang lalu, meski masalah yang dihadapi keluarga ini sudah terjadi sejak satu tahun-an yang lalu. Waktu itu bapak mengalami sakit “kanker prostate” dan harus dirawat hampir 6 bulan di sebuah Rumah Sakit, di Semarang. Kanker ini memaksa sang dokter harus mengambil buah pelirnya dan mengakibatkan gangguan fungsi seksual sang bapak. Bapak mengalami impotensi selama beberapa bulan, meski dokter mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu dan dengan berbagai terapi atau obat-obatan, kondisi bapak akan pulih. Bapak dan ibu menerima kondisi ini pada saat itu. Tetapi ternyata apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang ada di hati. Nafsu dan kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi, membuat ibu begitu mudah tergoda oleh pria lain. Seorang wanita, teman lama ibu yang sejak dulu katanya “nakal” menggoda ibu untuk mencari kepuasan dari pria yang lain, dan wanita ini berjanji untuk memfasilitasinya. Dalam kondisi yang “terbius” oleh kebutuhan seksualitas yang tak terpuaskan, sang ibu tak berdaya, dan setuju untuk mengikuti saran teman lamanya. Konspirasipun dimulai, dan pengkianatan pun terjadi. Dengan seorang lelaki setengah baya, seorang pengangguran. Dan sudah dimulai sejak bapak masih terbaring di Rumah Sakit.

Gelagat yang aneh dari ibu ternyata tercium juga oleh bapak. Awalnya beliau tak percaya, sama denganku saat pertama kali mendengar kisah ini. Mengetahui bahwa bapak dan ibu adalah seorang Haji dan Hajah, membuat kebanyakan orang juga pasti tidak akan percaya mendengar kisah ini. Namun fakta tetaplah sebuah fakta.

Beberapa waktu berlalu, semenjak kecurigaan itu. Sampai akhirnya semuanya terbongkar. Dan ibu tetap pada pendiriannya. Banyak orang beranggapan bahwa ibu telah di”guna-guna”. Entah apa yang membuat ibu sebegitu “nekat”nya, tapi bagiku itulah hebatnya “dosa seksual”. Itulah hebatnya ‘’Iblis”. Bahkan semua keluarga besar ibu dan bapak tak lagi didengar, bahkan suara hati anak-anaknya sekalipun. Dalam hati kemudian aku bertanya : Tuhan apa yang terjadi?

Beberapa jam aku duduk berdua dengan bapak untuk mendengarkan kisah ini, seminggu lalu. Kutatap matanya yang tetap tajam dan seakan sudah begitu kuat dan tak punya lagi air mata. Justru air mataku yang tak kuat lagi kutahan. Beliau bercerita, dirinya harus kuat untuk ketiga anaknya, terutama untuk anaknya terkecil yang masih SMP. Untuk itu beliau selalu taat mengerjakan shalat 5 waktu, bahkan puasa tiap 2 hari, belajar dari Nabi Daud katanya. Bahkan di dalam ketegarannya, beliau masih bersedia menerima istrinya yang telah mengkianatinya, mempermalukan keluarganya sendiri, menjual kehormatannya sendiri, bahkan menghabiskan hampir 200 juta tabungan keluarga untuk pria itu. Lebih parah lagi ibu memaksa bapak untuk menjual rumah dan menceraikannya supaya ibu bisa menikah dengan “selingkuhannya” tersebut.

Terus kutatap mata sang bapak saat menceritakan detail kejadian demi kejadian, bahkan SMS-SMS yang dituliskan satu sama lain. Bapak begitu baik, begitu penuh rasa sayang, dan begitu bijak. Tetapi tetap saja bisa kulihat kesedihan yang begitu luar biasa dari sorot matanya yang tajam itu. Di dalam kepahitannya itu, beliau pernah berkata pada anak-anaknya untuk tidak menangisi ibu mereka kalau terjadi apa-apa dengannya, karena beberapa waktu sebelumnya sang ibu mengalami kecelakaan dengan sepeda motornya.

Aku berusaha memahami luka bapak, yang masih sulit kucerna. Sang bapak masih bersikeras tidak akan melepas ibu meski sudah berperkara di pengadilan sampe 9 kali dan dimuat oleh surat kabar setempat karena mereka berdua adalah PNS (ibu seorang guru SMP), kecuali anak ketiga mereka lulus SMA kata bapak. Sungguh bijak menurutku. Keluarga ini sungguh-sungguh di ambang kehancuran. Nasi telah menjadi bubur. Luka sudah terlalu lebar. Ketiga anaknyapun kecuali yang paling kecil, menyerahkan segala keputusan di tangan bapaknya.

Terus kutatap mata bapak yang tajam itu, sambil sesekali menikmati kacang kedelai yang disuguhkan yang beberapa kali ditawarkan di sela-sela ceritanya. Kemudian bapak melanjutkan bahwa akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan bagian depan rumahnya untuk mencukupi biaya hidup dan sekolah ketiga anaknya, yang hanya sebagian kecil saja dibantu sang ibu. Gaji pensiun bapak yang beliau katakan hanya 2 juta tidak cukup. Ditambah lagi anak pertama yang telah menikah tetapi belum memiliki pekerjaan yang tetap sebagai seorang Insinyur Sipil.

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah jam 15.30 dan sudah 2 jam bapak bercerita. Beliau meminta ijin untuk shalat dulu dan kemudian aku menikmati buah apel yang bapak ambilkan. Aku kemudian meminta ijin untuk melihat-lihat sekeliling rumah bagian belakang. Pikiranku melayang ke tahun-tahun dulu, saat keluarga ini masih utuh. Kucoba kembali mencerna semua yang telah kudengar. Sulit Tuhan, sangat sulit. Sangat kejamnya dosa seksual, sangat kejam. Mungkin saat ini, Iblis beria-ria melihat kehancuran keluarga ini. Hatiku sangat pilu.

Bapak selesai shalat dan kami kembali ngobrol, tetapi hal-hal di luar masalahnya. Kemudian aku minta ijin untuk berkunjung ke rumah teman SMAku. Bapak memaksaku membawa motornya, meski sudah beberapa kali kutolak. Tapi tak apalah pikirku, sekalian nanti bisa sedikit memberikan kata-kata dukungan kepada bapak saat mengembalikan motornya. Dan aku bisa mensharingkan dengan temanku dulu dan meminta saran darinya, apa yang harus kukatakan.

Setelah hampir dua jam aku berkunjung ke rumah teman lamaku, aku kembali. Saat itu pukul 19.00. Bapak mengatakan telah mencoba menghubungiku, tapi handponeku mati. Waduh…maaf pak, kataku. Beliau membalas “tak apa”, beliau hanya kawatir aja pungkasnya, yang sampe menelpon ke rumah, takutnya aku dari rumah temanku langsung membawa motornya pulang. Karena sebelumnya bapak mengatakan silakan aja kalau mau bawa ke Lasem (jarak sekitar 12 km dari kota Rembang), tetapi kutolak. Kemudian, aku diantar bapak ke terminal untuk pulang. Sebelumnya aku berpamitan dengan “adik angkatku” yang terkecil. (dua anak yang lain bekerja dan kuliah di Jogja). Beliau mau sekalian membelikan lauk untuk anak terkecilnya katanya.

Sepanjang jalan aku berpikir, kata-kata terakhir apa yang harus kuucapakan kepada pria 65 tahunan ini. Di dalam ketegaran dirinya. Terdapat luka yang begitu dalam kepada istri yang telah mendampinya lebih dari 27 tahun, yang usianya 13 tahun lebih muda. Aku takut salah berkata-kata.

Kamipun sampai di terminal. Kuberanikan diriku untuk mengatakan sesuatu yang sudah kusiapkan sepanjang perjalanan. Saat aku turun dan bapak masih di atas motor, kucium kedua pipi pria tua ini. Kupegang erat-erat bahunya, sambil kukatakan “”Pak, tetap kuat ya…demi anak-anak” dan beliau mengatakan “Iya, terima kasih”.

Akupun pulang naik bus. Dan kisah ini masih sangat menggangguku. Aku ingin menolong, tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Saat Iblis menguasai sesorang, dia tidak segan-segan menghancurkannya. Bahkan pernikahan suci yang telah dibangun lebih dari 27 tahun sekalipun.


Ditulis karena sebuah kegelisahan, dan dengan sebuah pertanyaan inti :

Apa tujuan sebuah pernikahan???Kepuasan seksualkah?

Atau anak? Bagaimana kalau tidak ada anak???”

Thx buat kakak2 yang telah mengajarkan kepadaku nilai-nilai tersebut,

Jauh-jauh hari sebelum aku menjalaninya.


Senin, 13 Juli 2009

KASIH YANG MENEMBUS “PAGAR” PERBEDAAN

Saat itu aku sedang dalam perjalanan bersama adikku dari kota Jogja menuju kota Lasem, kota tempat tinggalku. Perjalanan total kami dari Jogja-Lasem menempuh waktu sekitar 7 jam, dimana kami harus berganti bus di kota Semarang, tepatnya di terminal Terboyo. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 3 sore, sehingga dapat dipastikan akan sampe malam hari di kota Lasem tercinta. Kami sampai di Semarang sekitar pukul 7 malam. Hari itu tepat tanggal 7 Juli, sehari sebelum Pemilu Capres, sehingga penumpang bis cukup padat karena arus balik. Dan kami baru mendapat bus untuk melanjutkan perjalanan ke Lasem sejam berikutnya. Waktu yang cukup lama untuk kami menunggu, ditambah perut yang sudah lapar, hiruk pikuk aktivitas terminal dan udara kotor bercampur debu yang menerpa tubuh kami. Satu-satunya yang kami harapkan ialah mendapatkan tempat duduk di bus. Kami sengaja tidak makan terlebih dahulu karena bus yang membawa kami dari Jogja ke Semarang tidak masuk ke terminal tapi hanya berhenti di pintu masuk terminal, yang jaraknya cukup jauh dari terminal. Jadi pikir kami, cukuplah kami menunggu bus di tempat ini dan menahan lapar 3 jam-an lagi.

Bersyukur akhirnya bus yang kami tunggu akhirnya datang juga, setelah kami memutuskan sambil berjalan menuju terminal dengan harapan nantinya mendapatkan tempat duduk. Sambil berjalan, aku melihat seorang wanita yang entah kemana tujuannya tapi yang jelas searah dengan kami berjalan sendiri, hati kecilku merasa kasihan melihat wanita tersebut. Seorang wanita yang berada di terminal pada malam hari sendirian, meski ada banyak orang lain di sekitarnya, cukup berbahaya menurutku. Mengingat di tempat tersebut sering terjadi tindak kriminalitas dan aku pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Waktu itu aku bersama seorang teman wanitaku, saat seorang pengamen berusaha menyikutku karena aku tidak memberikan uang receh. Bukan karena tidak mau memberi tapi memang tidak ada uang kecil saat itu. Ahhhhh…kuajak bareng saja wanita ini pikirku. Tapi saat aku melewatinya, aku merasa enggan sehingga aku tidak jadi menawarinya. Tetapi tetap saja saat aku berjalan beberapa kali aku menolah ke belakang, tanda penyesalanku kenapa tidak menawarinya saat melewatinya barusan. Syukurlah setelah berjalan beberapa meter dari wanita tersebut, bus yang kami tunggu datang juga dan kami beserta wanita tersebut naik bersama. Aku mempersilakan dia naik duluan tentunya. Ladies first begitulah intinya!! Dan kami semua mendapat tempat duduk, meski terpencar. Perjalanan ke kota tercintapun dimulai.

Aku duduk di barisan tengah dan pada posisi tengah. Sebelah kananku dekat jendela seorang pria seumuranku dan sebelah kanan seorang wanita berjilbab 20 tahun. Aku tahu usia wanita tersebut karena kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar saat menolong wanita tersebut menata barangnya tepat di depan tempat dudukku. Setelah pembicaraan singkat kami, aku merebahkan tubuhku ke tempat duduk, mencoba untuk tidur. Tetapi karena padatnya penumpang dan jalan yang kami lalui banyak yang rusak, membuatku sulit untuk tidur. Beberapa menit kemudian, sekitar 30 menit, penumpang semakin padat dan berhimpit-himpitan. Kulihat seorang wanita yang kebetulan berjilbab juga berdiri dekat tempat dudukku. Awalnya kupikir dia bisa bertahan berdiri sampai tujuan, karena toh usianya seumuranku juga dan ada banyak wanita lain yang berdiri juga. Tetapi beberapa saat setelah aku berpikir demikian, wanita ini berusaha jongkok di lorong bus, beberapa kali berdiri kembali karena kondektur yang lalu lalang meminta ongkos. Saat kulihat kembali wanita tersebut, aku tergerak untuk memberikan tempat dudukku. Beberapa menit berpikir, aku tahu bahwa perjanananku masih sekitar 2,5 jam-an lagi, tapi kutahu juga bahwa wanita tersebut kelelahan. Ada konflik di dalam diriku, antara ego dan kasih. Bersyukur karena kemudian kuputuskan untuk memberikan tempat dudukku tersebut, dan entah kenapa, aneh sekali, hatiku senang sekali setelah memberikan tempat duduk tersebut. Setelah itu, sambil berdiri, kupandangi wajah wanita tersebut yang begitu cepat sudah terlelap karena kelelahan. Hatiku bertambah senang, karena kutahu, aku sudah melakukan hal yang benar.

Perjalanan berlanjut, dan tiba-tiba tepat di depan tempat duduk yang kuberikan kepada wanita tersebut ada seorang pria 20 tahun-an memberikan tempat duduknya juga kepada seorang bapak 50 tahun-an. Kemudian kami berdiri berhadapan di lorong bus. Keinginan-tahuku sangat besar untuk mengetahui alasan apa yang membuat pria ini memberikan tempat duduknya. Saat kutanya, kutahu bahwa alasan dia adalah karena “kasihan” melihat perban yang ada di tangan kanan bapak tersebut. Dia memperkirakan bahwa bapak tersebut baru saja keluar dari rumah sakit, dan perban tersebut adalah bekas infuse. Terlepas dari salah tidaknya perkiraan pria tersebut, tapi kulihat bahwa dia mengasihi bapak tersebut. Hanya karena kasih.
Pembicaraan kamipun berlanjut, sampai kutahu kalo pria tersebut adalah seorang Muslim, seorang mahasiswa tahun pertama fakultas Hukum UNDIP. Kami melanjutkan pembicaraan kami yang bersahabat, sampai-sampai pria ini bercerita tentang kondisi keluarganya, konflik dengan orangtuanya. Akupun berusaha mendengarkan dengan seksama, mencoba memberinya solusi bahwa dia harus tetap menghormati ayah dan ibunya, bagaimanapun perilaku mereka. Pembicaraan kami berakhir beberapa menit saat bus hampir sampai di kota Lasem, kota tujuanku. Sebelumnya kami bertukar no telpon, menyalaminya, dan mengatakan kalau ingin ngobrol lebih lanjut denganku silakan menghubungi no telponku.

Bus kemudian berhenti di jalan masuk rumahku, kamipun turun. Saat kami berjalan menuju ke rumah, aku merenung dan berpikir. Aku senang sekali melewati perjalananku dari Jogja ke Lasem. Aku banyak belajar tentang apa itu kasih. Aku bersyukur ada orang lain, selain aku, yang mau berbagi kasih juga. Kasih membutuhkan sebuah pengorbanan. Kasih mematikan ego kita dan kasih menembus segala perbedaan yang ada.

Ada banyak “pagar” di sekitar kita. Pagar-pagar itu membatasi kita dengan orang lain, dan memaksa kita untuk lebih banyak memikirkan diri kita sendiri, keluarga kita, suku kita atau bahkan kelompok agama kita sendiri. Pertanyaan buat kita : Maukah kita menembus pagar itu?



Ditulis pada tanggal 9 Juli 2009, sehari setelah Pemilu
Jam 20:58 WIB
Saat sedang lapar, tapi otakku kekenyangan menyimpan memori kisah kasih ini

Sabtu, 04 Juli 2009

Entrepreneurship??? Why not!

Aku dibesarkan di keluarga yang sangat mengagung-agungkan uang. Uang adalah segala-galanya karena tanpa uang hidup kita akan menderita dan tidak akan bahagia. Kupikir kebanyakan orang akan berpikir hal yang sama.

Uang memang penting, bahkan sangat penting tapi uang bukanlah segala-galanya. Kebahagian kita tidak bergantung dari berapa banyak uang yang kita miliki. Hal ini sudah kubahas dalam tulisanku berjudul “ARTI PENTING SEBUAH PEKERJAAN”. Sedikit menambahkan, orang bijak pernah berkata demikian :




Uang adalah hamba yang menakjubkan,


tetapi tuan yang mengerikan.




Kata-kata di atas sangat dalam maknanya kalau kita mau merenungkannya lebih lanjut, tetapi pada tulisan ini aku tidak sedang ingin membahas hal tersebut. Yang ingin kubahas pada tulisan ini adalah “bagaimana cara mendapatkan uang tersebut?”.




Cara mendapatkan uang tentu saja dengan bekerja. Tetapi bekerja seperti apa?




Sejak kecil aku berpikir profesi “dokter” adalah profesi yang menjanjikan yang dapat dengan mudah mendapatkan banyak uang. Tetapi kalaupun tidak menjadi seorang dokter, menjadi insinyur pun juga menjanjikan kalau aku bisa bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang bonafit apalagi di perusahaan asing. Itulah pemikiranku sejak dulu sampai tepat sebulan yang lalu.




Begini kisahnya…




Bulan lalu saat aku baru tiba di Surabaya, setelah 3 bulan ada di Papua, aku membeli dan membaca sebuah buku berjudul “Quantum Leap” karangan Ir. Ciputra. Aku membeli buku ini, selain karena aku suka membaca, juga karena mendapat rekomendasi dari saudaraku yang mengatakan kisah hidup pak Ciputra sangatlah inspiratif dan pemikiran beliau tentang entrepreneurship sangatlah menarik. Jadi sudah sejak lama aku mencari buku ini…




Seorang entrepreneur, beliau mengatakan, adalah seorang yang mampu mengubah “kotoran dan rongsokan” menjadi “emas”. Setidaknya itulah yang menjadi filosofi beliau dan terbukti bagaimana beliau dapat mengubah dan mengembangkan kawasan Ancol seperti sekarang ini dan nama beliau tertulis di tugu Ancol. Seorang entrepreneur tidak selalu seorang pedagang, karena selain mungkin usaha tersebut adalah hasil warisan, juga pedagang seringkali ialah seorang yang mengambil untung dari margin barang yang ia beli dan jual. Dan itu bukanlah konsep entrepreneur yang pak Ci tawarkan. Bagi beliau seorang entrepreneur adalah seorang yang mampu melihat atau dengan sengaja menciptakan peluang, memberi nilai tambah dari barang atau jasa yang kemudian ia tawarkan ke pasar, Seorang entrepreneur sejati, beliau mengatakan, saat ia jatuh 10 kali, ia bisa bangkit 11 kali. Mungkin pemikiran ini sudah sering kita dapatkan, bahkan di seminar-seminar sering membahas hal ini.




Tetapi sesuatu yang membuat aku gelisah adalah saat pak Ci mengatakan bahwa




Kalau Anda seorang sarjana yang tidak memiliki kemampuan entrepreneur, siaplah mengantri pekerjaan”.




Yang membuatku gelisah bukan hanya karena aku harus mengantri pekerjaan, tetapi saat aku mengetahui bahwa tingkat pengangguran di negara kita terlalu tinggi, bahkan pengangguran-pengangguran terdidik. Lapangan pekerjaan sampai saat ini tidak mungkin mampu menampung semua tenaga kerja di negeri ini. Kemudian beberapa waktu ketika pemikiran ini masih menggangguku,saat aku melamar dan test kerja, aku mencoba memperhatikan tiap teman yang menjadi kompetitorku, dan kemudian dalam hati aku berkata




Ya Tuhan, aku tidak menjadi solusi bagi mereka, tetapi justru menjadi saingan mereka”.




Kegelisahan ini muncul begitu saja, saat dimana aku mencari kerja. Jujur kukatakan sampai saat inipun aku masih belum mampu untuk menjadi seorang entrepreneur, selain karena masalah skill, juga karena modal. Saat kuevaluasi diriku, aku mendapati selain karena memang aku tidak dibesarkan di dalam lingkungan entrepreneur, juga karena pendidikan kita hanyalah mencetak “pencari-pencari kerja”, bukan “pencipta kerja”. Apalagi kalau kita perhatikan, pendidikan di negara kita yang cenderung mendukung peningkatan jumlah SMK daripada focus dengan ide pak Ci untuk membuat sekolah-sekolah dan universitas yang mendidik para calon entrepreneur. Bahkan pak Ci sudah merintis beberapa sekolah dari TK sampai Universitas untuk focus menghasilkan entrepreneur-entrepreneur muda. Sekolah ini tidak tanggung-tanggung dalam membuat kurikulum, selain mereka dilatih terjun langsung ke lapangan, di universitas juga ada pendampingan mentor-mentor yang memang seorang entrepreneur betulan, seperti layaknya sekolah kedokteran yang didampingi dokter betulan saat co-ass. Metodenya sangat mirip dengan sekolah kedokteran. Bahkan pak ci juga mengaharapkan keterlibatan pemerintah untuk menjadi perantara dan pembuka kesempatan bagi mereka, baik dalam hal regulasi maupun permodalan. Benar-benar menarik, karena sebelumnya pak Ci membukakan akan pentingnya keseimbangan antara pencari kerja dengan pencipta kerja. Beliau mengungkapkan bahwa di negara-negara maju seperti contohnya Amerika Serikat, perbandingan antara pencari dan pencipta kerja tidak terlalu tinggi seperti di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Intinya, bahkan sangat mudah masuk dalam logika kita, bahwa keseimbangan keduanya menjadi kunci kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kita.


Seorang kewarganegaraan Bangladesh bernama Muhammad Yunus yang mendapatkan nobel perdamaian, karena perjuangan dan keberhasilan beliau dalam mengentaskan ribuan orang Bangladesh dari kemiskinan dan kelaparan dengan cara memberi mereka modal untuk berusaha, adalah bukti bahwa entrepreneurship adalah solusi pengurangan pengangguran di Indonesia. Seorang entrepreneur selain dia dapat menghidupi dirinya sendiri (tidak menjadi beban orang lain), juga sangat mungkin untuk menolong orang lain baik dari sisi permodalan maupun dalam penyedian lapangan pekerjaan.


Peningkatan jumlah SMK menurutku menunjukkan bahwa bukannya solusi ini yang coba diterapkan oleh pemerintah tetapi justru hanya mencetak para pencari kerja yang handal, punya skill dan siap kerja. Dan tetap saja, selama lapangan kerja hanya terbatas seperti sekarang, pengangguran tetap akan ada.




Dulu aku pernah berpikir “picik” bahwa mereka-mereka yang mejadi entrepreneur adalah orang-orang yang “mata duitan”, yang hanya berorientasi pada uang. Tetapi saat aku dibukakan tentang kondisi negara kita bahkan kondisi dunia yang faktanya ada begitu banyak pengangguran dan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan, aku kemudian tergugah untuk menjadi seorang entrepreneur meski bukan saat ini karena segala kondisi yang ada. Tapi setidaknya inilah mimpiku jangka panjang nanti. Entrepreneurship setidaknya menjadi salah satu solusi vital perbaikan kehidupan masyarakat kita.




Saat aku membeli buku tentang kisahnya Muhammad Yunus, awalnya aku bingung saat membaca cover buku tersebut karena dituliskan bahwa beliau mendapatkan nobel perdamaian. Bukankah beliau berjuang dalam bidang ekonomi, tetapi mengapa justru nobel perdamaian yang beliau dapatkan dan bukan nobel ekonomi?




Ternyata ini terjawab saat aku membaca bagian akhir kisahnya, yaitu catatan pidatonya saat mendapatkan penghargaan yang sangat bergengsi ini. Beliau mengatakan bahwa tidak terlalu sulit baginya untuk mengkaitkan kriminalitas, terorisme bahkan perang antar negara dengan kemiskinan yang coba beliau berantas dalam perjuangannya. Setelah itu aku baru mengerti.




Pak Ciputra dan Muhammad Yunus adalah dua tokoh penting yang menginspirasiku akan pentingnya semakin benyak orang yang mau berpikir jauh ke depan untuk bersama-sama menolong lebih banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi melalui dunia entrepreneurship.




Tetapi sore tadi, baru saja aku mengikuti sebuah seminar dengan tema “entrepreneurship” yang memberikanku nilai-nilai yang harus dimiliki sebagai seorang entrepreneur Kristen. Pembicara adalah seorang yang menjadi entrepreneur dalam bidang telekomunikasi, dalam hal ini adalah handpone, di kota Solo. Beliau bernama Joko. Dari penampilannya, pak Joko adalah seorang yang sangat sederhana. Sehingga mohon maaf kalau sebelumnya aku sedikit meragukan kompetensi beliau sebagai pembicara dan ternyata aku salah. Beberapa nilai-nilai yang coba dibagikan sangatlah mendasar, sebagai berikut :





  1. Milikilah hati yang melayani (baik terhadap anak buah maupun pelanggan)


  2. Jujur


  3. Jangan menetapkan margin yang terlalu rendah atau terlalu tinggi


  4. Tetapkan standar hidup yang tegas


  5. Kalau terpaksa berhutang, jangan melebihi asset yang kita miliki


  6. Jangan mengambil untung dari kerugian orang lain






Inilah beberapa dari sekian banyak point yang dibagikan, yang sangat menolongku dalam bersikap sebagai seorang entrepreneur nantinya.




Saat ada sesi tanya jawab, ada seorang teman yang bercerita bahwa dia sekarang sedang merintis usaha jual pulsa handpone dan tambal ban. Waktunya masih lebih banyak ia curahkan untuk usaha jual pulsa meski sudah memiliki beberapa karyawan, tapi yang menarik ialah ia juga mempunyai ide untuk membuka tambal ban. Ia memberi modal yang relatif kecil kepada orang yang tidak mampu untuk bekerja sebagai penambal ban, meski keuntungan yang didapat oleh temanku ini juga relatif lebih kecil dibanding si bapak ini, tetapi ia sangat senang karena bisa menolong orang lain. Inilah semangat yang harus kita miliki sebagai anak-anak Tuhan, khususnya yang ingin terjun dalam dunia entrepreneurship. Hidup untuk berbagi!










Ditulis pada tanggal 5 Juli 2009 tepat pukul 00.00


Saat sudah mengantuk.