Kamis, 27 Agustus 2009

PAPIKU: ANTARA PENDIDIKAN DAN KEBEBASAN EKONOMI (SEBUAH INSPIRASI AKAN PERJUANGAN LEPAS DARI CENGKERAMAN KEMISKINAN)

Aku masih ingat dengan jelas ketika papi harus digendong beberapa orang teman kerjanya kembali ke rumah, ketika itu sekujur tubuh papi lemas dan lumpuh tak bisa bergerak. Pagi itu, mami sudah melarang papi untuk berangkat kerja, tapi karena kebutuhan ekonomi terlebih untuk membiayai cece dan kokoku yang masih kuliah, iapun memaksakan diri. Terpancar dari sorot matanya untuk terus bekerja-dan bekerja, untuk membiayai kami sekolah, supaya kami tidak mengalami nasib seperti dirinya, menjadi sopir dan hidup di jalanan.
Papi hanyalah lulusan SMP, sempat melanjutkan ke STM tapi karena tekanan ekonomi yang dialami oleh kakek, papipun memutuskan untuk bekerja. Sejak kecil papi sudah mengalami hidup sulit karena tekanan ekonomi. Delapan bersaudara dimana kakek adalah seorang buruh di sebuah perusahaan ekspedisi. Kuingat ketika papi berulang-ulang menceritakan kisah hidup masa kecilnya, makan dengan lauk yang harus dibagi sedikit-sedikit supaya cukup dan bagaimana papanya sering mendisiplinkan mereka, khususnya dalam pendidikan, memukul sebanyak rasio kesalahan apabila salah menjawab perkalian ataupun pembagian.
Pada dasarnya papi adalah anak yang cerdas, bahkan ia pernah mendapat nilai aljabar 10 (sempurna) saat ujian nasional SMP, oleh karena itulah papi sering mengatakan bahwa ia lah yang paling disayang oleh kakek karena kecerdasannya. Hadiah yang sering diberikan kakek kepada papi adalah diajak keliling kota Lasem dengan sepeda. Dan Papi selalu bangga ketika menceritakan kisah ini, meski sudah berulang-ulang diceritakan. Dan terlihat begitu bangganya papi kepada papanya.
Setelah keluar dari sekolah papi bekerja di beberapa tempat, diantaranya Jakarta dan Banyuwangi. Di Banyuwangi, papi bekerja di sebuah percetakan yang membuatnya kehilangan satu ruas jari telunjuknya karena sebuah kecelakaan kerja. Setelah melanglang ke beberapa tempat, papi pulang ke Lasem dan menikah dengan mami. Bekerja mulai dari berjualan SDSB (judi yang legal saat itu) sampai akhirnya menjadi sopir truck kurang lebih selama 10 tahun. Masa sekolahku, mulai dari SD sampai SMA dibiayai papi saat papi menjadi sopir. Penghasilan seorang sopir saat itu lumayan tetapi sangat beresiko. Penghasilan papi saat itu bisa membiayai ceceku kuliah, meski saat kokoku masuk kuliah situasinya menjadi lebih sulit. Resiko yang dilalui papi selama menjadi sopir sangat mengerikan, apalagi ketika mengangkut ikan segar ke Jakarta, mulai dari kecepatan di atas 90 km/jam supaya sampai tujuan tepat waktu juga ancaman preman jalanan dan beberapa kali kecelakaan yang dialami papi. Papi pernah bercerita bahwa beberapa temannya yang menjadi sopir ikan meninggal dan beberapa yang lain cacat seumur hidup karena kecelakaan. Tapi papi sangat rajin saat itu dan nyaris tidak pernah libur, karena tuntutan kebutuhan ekonomi dan iming-iming pendapatan yang lumayan. Kisah yang mengawali tulisan ini adalah saat papi masih menjadi sopir ikan, dan aku selalu ingin menangis saat mengingat kejadian di pagi itu. Juga saat mengingat mami menangisi papi ketika itu. Hatiku pilu.
Selain perjuangan papi dalam bekerja, aku juga ingat setiap detil peristiwa yang papi lakukan terhadap kami selama kami sekolah, mulai dari memberikan uang sekolah yang tidak pernah terlambat sekalipun harus berhutang, buku-buku sekolah kami yang selalu tersampul rapi lengkap dengan nama-alamat-bidang study yang ditulis latin nan indah gaya tulisan orang kuno, selalu siap minimal 1 jam sebelum pengambilan rapor dengan celana panjang dan baju resmi diikat dengan ikat pinggang hitam dan sepeda yang selalu mengantarnya, dan selalu menceritakan ke orang lain tentang prestasi kami meski beberapa dari kami seringkali merasa tidak nyaman. Papi juga selalu mengatakan bahwa yang bisa ia berikan kepada kami hanyalah kepintaran, kalau kami pintar, kami tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan yang baik dan orang juga tidak akan meremehkan kami. Aku masih ingat ketika aku masih SMP, dan melihat kakak kelas yang mendapat peringkat 10 besar, orang tua mereka diundang dan diberikan penghargaan karena prestasi anaknya. Saat itu aku bermimpi untuk bisa meraih prestasi itu dan puji Tuhan aku berhasil mendapatkannya, peringkat 6. Aku masih mengingat betapa bangganya papi kepadaku saat itu. Dan prestasi itu juga diraih oleh saudara-saudaraku yang lain dan aku meyakini mereka juga ingin mempersembahkan prestasi mereka untuk papi juga mami.
Kini usia papi sudah 58 tahun dan mami 57 tahun. Beberapa tahun yang lalu papi terserang tetanus yang nyaris merenggut nyawanya, meski sekarang sudah sehat kembali tetapi tetap saja kondisi fisiknya semakin melemah. Badannya yang dulu kuat, kini sudah lemah, bahkan mengendarai mobilpun kini papi sudah takut karena tangannya yang sering gemetar. Kulitnya yang hitam dan kasar menjadi bukti kerja kerasnya untuk menyekolahkan kami. Wajahnya yang sudah keriput dan giginya yang sudah ompong menjadi bukti ketidakberdayaanya melawan hukum alam. Mami juga saat ini sering sakit-sakitan, maagnya sering kambuh dan jantungnya berdebar-debar. Aku berdoa kepada Tuhan, semoga mereka diberikan umur yang panjang sehingga dapat melihat kami berlima hidup rukun dan memiliki keluarga yang bahagia. Dan aku juga berdoa semoga Tuhan dengan anugerahNya yang tak terbatas menyentuh hidup mereka, sehingga mereka dapat memahami bahwa Tuhan mengasihi mereka dan dapat membasuh luka-luka hidup masa lalu mereka. Kini, kami berlima telah menempuh pendidikan tinggi, Sarjana Ekonomi, Dokter, Sarjana Ekonomi, Sarjana Teknik, dan “calon” dokter dan kami bangga dengan pencapaian kami masing-masing dan kuyakin begitu juga papi dan mami.
Papi (juga mami) adalah alasanku untuk terus belajar dan belajar, sekolah dan sekolah. Kuingin membuatnya bangga, untuk membuktikan kepadanya bahwa perjuangannya untuk menyekolahkan kami tidaklah sia-sia. Bahwa setiap keringat dan air matanya tidak akan pernah menjadi sia-sia. Meski belakangan kupahami bahwa tujuan sekolah bukanlah semata-mata untuk mendapatkan uang, tapi satu hal yang kutau adalah semua yang papi lakukan dan tanamkan kepada kami adalah karena papi mencintai kami. Terima kasih untuk semua perjuangan dan cintamu Pi. Kami mengasihimu!

Kupersembahkan tulisan ini untuk papi,mami dan keempat saudaraku
Sebagai bentuk kecintaanku kepada mereka, khususnya papi dan mami
ditulis pada hari Minggu siang 23 Agust 2009 pukul 11:04 di Sekretariat Perkantas
saat kepalaku masih nyeri, tapi keinginan untuk menulis begitu kuat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar