Sabtu, 23 Januari 2010

DIAM…ITULAH SUMBER KEKUATANMU




Aku hidup dalam dunia yang sibuk, kebisingan ada dimana-mana…
Kompetisi, berjuang untuk hidup dan uang menjadi rutinitas yang tak terelakkan…
Dalam keterbatasanku aku menjadi seperti sebutir pasir yang terbawa oleh derasnya air sungai kehidupan…semakin rendah dan mungkin akan terjun bebas
Aku datang kepada Tuhan dalam doa pagi dan malamku, tetapi tetap tak terpuaskan…
Seakan Tuhan diam…
Aku merasa, mungkin fisikku yang kelelahan…dan akupun tidur lebih lama.
Tapi tetap saja kelelahan itu tak tersembuhkan…
Mungkin aku butuh nonton film, tapi yang kudapati, itu hanya menyegarkan sesaat

Lalu apa yang harus kulakukan???

Mungkin aku butuh retreat, aku butuh waktu sendiri…
Itulah yang kupikirkan, tetapi tetap saja kesibukan menghalauku…
Sampai akhirnya, ada seminar tentang “Spiritualitas Kristen”
Saat itu kami diminta untuk berdiam diri selama 10 menit….
Kurasakan di dalam keheningan itu ada banyak suara dan pikiran yang menggangguku
Kuminta kepada Tuhan agar menolongku untuk bisa “diam”
Sampai akhirnya semua pikiran itu bermunculan, semua dosa dan kesalahanku bahkan hal-hal yang pernah kujanjikan pada diriku sebagai solusi dari semua masalahku ikut bermunculan…
Dan akhirnya aku benar-benar bisa “diam”…
Kedamaian yang sangat indah dapat kurasakan, ketenangan pikiran, hati dan jiwaku…meski hanya 10 menit
Dan itu sangat berharga…
Kini kutau bahwa aku butuh disiplin, aku butuh berkomitmen untuk bisa “diam”
Karena di dalam “diam” itulah aku betul-betul dapat merasakan kehadiran Tuhan di dalam dunia yang “bising”



Ditulis sebagai ucapan syukur karena telah ditolong lewat seminar ini
Thanks to Kak Tadius Gunadi…
Thanks to God…
Sabtu 23 Januari 2010, Pukul 23.00

Kamis, 07 Januari 2010

BOCAH KECIL BERIMAN RAKSASA (SEBUAH KISAH NYATA TRAGEDI TSUNAMI ACEH 2004)



Seorang bocah 14 tahun, berlari dari kejaran air setinggi lebih dari 7 meter menuju sebuah rumah. Di dalam salah satu ruangan rumah itu, air bah masuk dan semakin meninggi. Dia memanjat kursi, meja dan almari sampai kepala sudah membentur langit-langit ruangan. Seolah inilah akhir dari hidupnya, sampai kemudian sebuah doa keluar dari mulutnya yang penuh ketakutan, “Tuhan, kalau aku bisa selamat, aku akan menyerahkan hidupku kepadaMu”. Mujizat pertama terjadi, air berhenti tepat di bawah bibirnya.

Inilah sepenggal kisah mengerikan yang dihadapi oleh seorang anak 14 tahun, 5 tahun yang lalu.

Seperti anak-anak pada umumnya, dia tumbuh besar di kota Banda Aceh. Dia adalah anak sulung dengan dua orang adik laki-laki. Besar di dalam keluarga yang sangat rukun dan bahagia, penuh kasih dan kehangatan keluarga. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter yang sangat terpandang di daerah tersebut. Meski demikian, dia mengatakan bahwa dirinya dulu seorang anak yang nakal, meski tetap berprestasi di sekolah. Kehidupannya sejak kecil juga tidak lepas dari lingkungan gerejawi karena kedua orang tuanya juga adalah seorang aktivis gereja.

Saat kisah ini dibagikan kepadaku, dia mengatakan
“Kak, sebelum semuanya terenggut dariku, aku memiliki keluarga yang sangat sempurna. Aku memiliki ayah dan ibu yang sangat hebat. Aku sering melihat ayah mengobati pasien di rumah, bahkan saat pasien tidak punya uang untuk membayar sekalipun, ayah tetap mengobatinya dan memberinya obat. Kelak, aku ingin menjadi seperti ayah, bahkan ingin lebih hebat dari ayah”

Tragedi ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Dua hari sebelum peristiwa itu dia mengikuti sebuah kebangunan rohani. Saat itu dia maju ke depan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan berdoa, entah ini firasat atau tidak, dia berdoa : “Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku kepadamu, tetapi apabila terjadi sesuatu kepadaku atau keluargaku, tolong kuatkan aku”. Malam harinya dia menikmati tradisi Christmas Carol bersama keluarganya (ayah, ibu dan kedua adiknya), berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bernyanyi dan menyambut Natal dan berakhir di rumahnya sendiri. Momen langka dan baru pertama kalinya ia nikmati bersama keluarganya, meski tetap dengan penjagaan pihak kepolisian. Inilah momen terindah yang ia nikmati sebelum tragedi mengerikan merenggut ratusan ribu nyawa di bumi serambi Mekah ini.

Hari itu adalah hari minggu, 26 Desember 2004. Seperti biasa ibuya menjemput kedua adiknya di gereja setelah mengikuti sekolah minggu dan ayahnya baru saja menerima pasien yang datang untuk berobat meski hari libur. Masih begitu lekat di ingatannya ketika itu ia menyapa ibunya “Pagi,mom…”. Kata-kata terakhir yang terucap dari mulutnya kepada ibunya.
Ketika itu gempa besar terjadi. Semua kepanikan melanda banda Aceh, tetapi kepanikan itu segera mereda setelah gempa berakhir. Bocah kecil ini meminta ijin kepada papanya yang saat itu masih di rumah untuk berkeliling sekitar lingkungan untuk melihat kondisi bangunan. Di sepanjang perjalanan keliling dia bertemu dengan papanya yang menyuruhnya segera pulang, tetapi dia menolak dan tetap tinggal di lingkungan gereja, ketika itu mama dan kedua adiknya sudah pulang ke rumah. Jarak gereja dengan rumah memang tidak jauh, sekitar 1 km saja.

Ketika itu dia melihat air setinggi lebih dari 7 meter mengarah kepadanya, sangat deras, yang kemudian memaksanya segera masuk ke dalam ruangan rumah, memanjat meja, kursi, sampai air berhenti naik tepat di bawah bibirnya. Saat air mulai turun ia segera berusaha keluar dan memanjat atap rumah. Dari situ bersama seorang temannya yang selamat, mereka berdoa supaya Tuhan menyelamatkan keluarga mereka, bocah kecil ini secara sadar mendoakan keluarga temannya, meski ketakutan kehilangan keluarganya sendiri begitu kuat. Apalagi ketika ia ketahui bahwa rumahnya telah hancur, rata dengan tanah setelah ditabrak kapal ikan yang terbawa arus. Tetapi setidaknya dengan ia mendoakan temannya, ia mendapatkan kekuatan.

Pagi, siang dan sorepun berlalu, mayat telah bergelimpangan.Tidak ada bahan makanan. Ia bersama beberapa teman gerejanya bergabung di dalam gedung gereja, di lantai dua. Mujizat kedua terjadi, mereka menemukan seekor ikan tuna besar tersangkut di pohon dan memastikan bahwa mereka dapat makan malam setelah seharian tidak makan. Di dalam keheningan malam itu, ketakutan kehilangan kedua orang tua dan kedua adiknya semakin kuat. Dia masuk ke dalam salah satu ruangan gereja yang sangat gelap dan dia berdoa :

“Tuhan, kalo memang Tuhan mau menyelamatkan mereka, Tuhan pasti sanggup tetapi kalopun Tuhan sudah memanggil mereka, tolong kuatkan aku”.

Doa inilah yang terucap dari mulut seorang bocah kecil berumur 14 tahun yang menanggung kesedihan yang menyakitkan, ketika ia tahu bahwa keluarga temannya yang ia doakan tadi selamat, tetapi keluarganya sendiri tidak kunjung datang. Tetapi sesungguhnya doa ini adalah mujizat ketiga, karena mungkinkah seorang bocah seusia itu dapat menanggung beban seberat itu, kalo bukan Tuhan sendiri yang hadir menemaninya?

Kisah ini diceritakannya kepada kami di dalam diskusi kelompok kecil. Sesekali kuusap air mata yang tak dapat kutahan, saat mencoba merasakan kepedihan adikku ini. Tetapi, sesungguhnya dia sudah begitu kuat untuk menanggung ujian ini. Ceritanya sungguh lantang, seakan ia sudah berdamai dengan masa lalu dan dengan Tuhannya. Diapun melanjutkan ceritanya, dia mengatakan bahwa keesokan harinya ia dibawa ke kota Medan oleh saudaranya. Dan kemudian ia melanjutkan studi ke Jakarta dengan fakta bahwa ia harus hidup sendiri tanpa kedua orang tua dan kedua adik yang sangat ia cintai dan mencintainya. Ia mengatakan pergumulan terbesarnya setelah kehilangan keluarga ialah fakta bahwa ia harus tinggal serumah bersama saudaranya yang tidak begitu dekat dengannya. Meski keluarga barunya ini menganggapnya seperti “anak sendiri” tetapi keluarga kandungnya tetap tidak tergantikan. Proses terus ia jalani sampai kemudian ia bisa benar-benar dekat dengan keluarga barunya ini.

Kemudian ia mengatakan kepada kami

“Kak, inilah meujizat selanjutnya, Tuhan memang mengambil keluargaku, tetapi Tuhan telah menyediakan lebih banyak keluarga buatku dan mereka mencintaiku. Kisahku tidak jauh berbeda dengan kisah Ayub dan aku mendapatkan kekuatan kembali setelah merenungkan kisah Ayub”.

Inilah mujizat keempat pikirku, sambil merenungkan bahwa aku tidak lagi melihat “Ayub” dengan membaca Alkitab, tapi kini “Ayub” benar-benar duduk di hadapanku untuk menceritakan kisah imannya. Sekali lagi yang memilukan adalah “Ayub modern” ini masih berusia 14 tahun kala itu. Sekali lagi hatiku kelu.

Kamipun menutup diskusi dan sharing kami di dalam doa. Di dalam doa yang kupimpin, aku mendoakan semoga adikku ini terus dikuatkan dan dapat menyatakan “iman raksasanya” kepada semakin banyak orang. Termasuk kepada kami. Saat doa, kudengar isak tangis kerinduannya kepada kedua orang tuanya dan adiknya, akupun tak kuasa menahan tangis.

Setelah doa berakhir, di dalam sendau gurau kami sebelum pulang, dia mengatakan bahwa dia tetap bisa berprestasi di sekolah dan berhasil masuk Fakultas Kedokteran yang ia cita-citakan sejak kecil ketika melihat papanya praktek. Inilah mujizat keenam.

Di dalam kesibukannya sekolah di Jakarta ia harus mengurus juga surat kematian keluarganya, bahkan mengurusi tanah dan rumahnya yang telah direnovasi pemerintah yang kini disewakan kepada orang lain. Saat kutanya, bagaimana dengan bea studi dan bea hidupnya, ia mengatakan bahwa tabungan papanya sudah cukup untuk membiayainya sampai menjadi dokter, apalagi ditambah dengan uang sewa rumahnya. Kuyakin inilah mujizat ketujuh.

Terakhir kudengar bahwa adikku yang tidak lagi bocah ini sempat dikirim ke Malaysia untuk mewakili kampusnya.

Kisah ini menguasaiku berminggu-minggu. Aku ingin adikku ini menuliskan sendiri kisahnya ke dalam sebuah buku supaya dapat dibaca dan menguatkan sebanyak mungkin orang. Disaat begitu banyak orang Kristen kehilangan imannya karena masalah-masalah yang mereka hadapi, bahkan mencoba mengakhiri hidupnya alias bunuh diri. Si bocah kecil berusia 14 tahun ini, bukannya putus asa tetapi justru semakin bergantung dan mengenal Tuhannya sebagai pribadi yang begitu dekat dengannya. Aneh, sulit dan begitu dalam.

Pertanyaan buatku dan buatmu : Mungkinkah tidak ada Tuhan, kalo bocah sekecil itu dapat menahan beban seberat itu? – Amin-

NB : Ketika adikku ini merindukan keluarganya, ia selalu bermimpi bertemu dengan mereka semua

Ditulis pada tanggal 7 januari 2010 pukul 20.00 WIB
Untuk kembali mengingat kisah ini
Sebagai refleksi bahwa kekuatan dan penghiburan hanya datang dari Tuhan
Dan DIA tetap memegang kendali

Rabu, 06 Januari 2010

GUSDURmu, GUSDURku, GUSDUR kita semua…



Gus…
Tawamu yang khas kini tiada lagi
Candamu yang segar tak dapat lagi kudengar
Sepak terjangmu yang unik tak lagi bisa kutemui
“Gitu aja kok repot” selalu rindu tuk kudengar

Siapakah engkau Gus?
Siapakah yang engkau bela?
Apakah yang engkau perjuangkan?
di balik tubuh rapuhmu itu…

Saat hak-hak etnis Tionghoa dipasung selama 32 tahun, Engkau menjadi pembela mereka dan menjadi bagian dari mereka …
Saat gereja-gereja dirusak dan aksi pengobaman gereja menjadi terror yang mengerikan, engkau kirimkan satuan pengamanan…
Saat Inul Daratista dikecam, dimaki dan dikatakan sebagai perusak moral bangsa ini, engkau berfoto bersamanya dan menjadi pembelanya…
Saat Ahmadiyah dimusuhi dan hendak dihancurkan secara anarkis, engkau berada pada barisan terdepan untuk mengamankan mereka…
Saat kondisi politik begitu mencekam, engkau menjadi bapak bangsa yang dapat menjembatani mereka semua…

Darimu, kami belajar melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda…
Darimu, kami belajar melihat sesuatu lebih dalam dan lebih esensi…
Darimu, kami belajar menerapkan kasih yang universal tanpa terbatasi oleh tradisi dan agama…
Engkau menjembatani semua perbedaan kami, engkau bapa bagi semua agama dan suku dan kelompok apapun yang ada di bangsa ini…

Kini, engkau telah tiada…
Kepergianmu terlalu pagi bagi bangsa yang masih membangun ini…
Bangsa yang terlalu mudah tercerai berai karena perbedaan, apalagi soal agama…
Kepergianmu masih meninggalkan lubang menganga yang entah kapan segera dapat terisi…
Kepergianmu menjadi luka bagi kami, bagi bangsa ini, bagi kemanusiaan dan bagi dunia ini…
Semua komponen bangsa menangisi kepergianmu…
Islam, Kristen,Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, Etnis tionghoa…
Semua partai politik yang terbiasa berbeda pendapat, termasuk Presiden sekalipun kini satu suara mengusung engkau sebagai “PAHLAWAN NASIONAL”
Selamat jalan PAHLAWAN kami, Selamat jalan BAPAK PLURALISME…
Pengabdianmu bagi bangsa ini kan selalu kami kenang…
Kalau India memiliki “MAHATMA GANDHI”, bangsa ini memiliki “GUSDUR”

(Rasul Paulus berkata “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,
dan yang paling besar diantaranya ialah KASIH”)


ditulis pada hari Kamis, 7 Januari 2010,pukul 13.00
sebagai penghormatan kepada GusDur
yang telah menyatakan “iman”nya dengan “kasih yang nyata”

Kamis, 24 September 2009

PENGAMPUNAN MASSAL : INIKAH REALITA SURGA YANG TURUN KE BUMI?


Hari itu adalah hari Sabtu, tanggal 19 September 2009, saat Menteri Agama Republik Indonesia menetapkan bahwa keesokan harinya, yaitu tanggal 20 September 2009 adalah 1 Syawal 1430 Hijriyah. Hari yang dinanti oleh jutaan umat Muslim dunia, khususnya umat muslim Indonesia, setelah satu bulan penuh menahan haus dan lapar, nafsu serta segala bentuk keinginan diri.
Jutaan orang dari pelosok desa dan kota di negeri ini pulang ke kampung halaman, bahkan juga para “pahlawan devisa” kita, dari negeri tetangga. Tidak hanya umat muslim, tetapi akupun “seorang Kristen” pulang juga. Di sepanjang perjalanan pulang itulah aku merenung dan muncullah sebuah pertanyaan di dalam diriku “Inikah realita surga yang turun ke bumi?”

Siang itu pukul 12.00, tanggal 19 September 2009, setelah aku pulang lebih awal dari kantor, membeli buku untuk kakak perempuanku di rumah, makan siang dan packing, akupun siap mudik.
Perjalanan untuk sampai ke rumah cukup panjang, aku harus berganti bus sesampainya di kota Semarang, menyusuri pantura menuju kota Lasem tercinta, tempat aku menghabiskan masa kecilku. Total jarak sekitar 550 km dengan waktu tempuh 6-8 jam. Akupun naik bus Patas dari Jogja menuju Semarang dan menikmati kenyamanan beristirahat alias terlelap. Sesampainya di kota Semarang aku berganti bus non-patas (karena tidak ada yang Patas) dan perenunganpun dimulai.

Saat bus menyusuri kota Demak yang terkenal dengan sebutan kota wali itu (para tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa) aku menemukan pemandangan yang baru kali ini benar-benar kuperhatikan. Aku melihat tempat-tempat pemakaman di sepanjang jalan kota Demak penuh dengan masyarakat sekitar berpakaian muslim, beberapa dari mereka berdoa, ada juga yang hanya membersihkan ilalang di sekitar makam. Tempat pemakaman yang kesehariannya sunyi senyap kini menjadi ramai. Inilah momen untuk mendoakan dan mengenang kembali keluarga yang telah tiada. Sembari masih merenungkan hal itu, kutatap perlahan setiap wajah penumpang yang ada di sekelilingku, kulihat kelelahan sekaligus kebahagiaan yang mendalam terpancar dari wajah mereka, kerinduan untuk segera bertemu dengan sanak family tercinta. Tuhan, inikah gambaran surga nantinya, pikirku sejenak sambil memandangi hamparan hijau sawah di kanan kiriku, seperti permadani hijau nan indah. Saat semua keadaan itu membuai pikiranku, tiba-tiba ide brilian muncul dari dalam isi kepalaku, yah….betul….inilah momen “pengampunan massal!”.
Idul Fitri bagi umat muslim adalah momen untuk kembali Fitrah, kembali suci, momen untuk bermaaf-maafan dan saling mengampuni. Mengingat bahwa jumlah umat muslim di Indonesia adalah mayoritas baik di dalam negeri maupun dunia, akupun berpikir “Inikah rekonsiliasi massal bangsa kita di tengah segala kebobrokan relasi dan kompetisi dunia yang menakutkan? Dan Apa yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku melalui momen ini? Bagaimana perasaan Tuhan melihat umat ciptaanNya saling bermaaf-maafan?”.
Tuhan mungkin bersorak, atau diam terharu atau mungkin sampai menangis, menangis karena “kasih dan pengampunan” itulah kerinduan terbesarnya. Dan pada momen inilah DIA dapat menyaksikan semuanya itu.
Ketika kusaksikan lagi pemandangan di sekitarku, aku baru menyadari bahwa langit mendung dan akhirnya hujan turun, seakan membenarkan apa yang kupikirkan. “Mungkin betul, bahwa Tuhan menangis terharu”. Mungkin Tuhan menangis terharu saat melihat adanya kasih dan pengampunan yang dibagikan di tengah dunia yang penuh dengan dendam dan kebencian, dunia yang penuh dengan kompetisi dan kesombongan diri. Lihatlah betapa indahnya momen ini, saat jutaan orang kembali ke kampung halaman, melupakan sejenak kejamnya dunia kerja, melupakan sejenak kompetisi hidup, dan ke”gilaan” mencari uang untuk kembali pulang, mencium ayah dan ibu dan sanak familinya untuk mengucapkan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” sebagai tanda bahwa semua kesalahan telah dimaafkan dan relasi yang baru kembali terjalin. Momen ini membuktikan bahwa tidak ada lagi yang lebih penting di dunia ini selain “orang yang kita cintai”, keluarga dan relasi antar manusia. Dan relasi yang indah itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya kasih dan pengampunan, karena setiap kita berdosa, setiap kita pernah dan bisa berbuat salah.
Lalu kuingat pesan Yesus di dalam perumpamaan “anak yang hilang”. Saat seorang anak durhaka pulang kembali ke rumah, bukannya penghakiman dan penolakan yang Tuhan berikan, tapi justru pelukan, ciuman, pesta penyambutan dan kemenangan yang luar biasa, karena seorang anak yang hilang telah kembali, anak yang mati telah hidup kembali. “Tuhan, begitu dalam cintamu kepada kami yang tak mampu kami salami”, akupun terdiam. Dan itulah kasih karunia, kasih yang tak bersyarat.
Nampaknya kita perlu belajar dari saudara-saudara kita yang muslim. Kalau mereka punya momen untuk saling mengampuni, kapan kita punya momen itu? Momen dapat mengingatkan kita akan pesan penting ini, tetapi pengampunan sejujurnya dapat dilakukan setiap saat. Maukah kita belajar mengampuni orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita? Maukah kita menjadikan lingkungan kita sebagai surga bagi sesama? Aku yakin, inilah realita surga yang turun ke bumi, dan aku terpesona akan keindahannya.

Ditulis pada pada jam 20.00, 24 Sept 2009
Sebagai kekaguman akan cinta kasih Tuhan
yang universal bagi umat manusia

Kamis, 17 September 2009

BAHAYA-nya SMS (Sekedar Info..) :

Seorang wanita telah mengubah kebiasaannya dalam pencantuman nama
di handphone setelah tasnya dicopet orang. tas tersebut berisi HP,
credit card, dompet, dsb... dicuri orang. 20 menit kemudian ketika
dia menelpon suaminya untuk memberitahu apa yg terjadi, suaminya
berkata,"Aku baru aja terima SMS kamu, nanya nomor pin. Baru aja aku
balas. "Ketika mereka melaporkan ke bank, staff bank memberitahukan
bahwa uang mereka telah ditarik lewat ATM. Pencuri tersebut telah
menggunakan HP untuk meng - SMS "suami" dan mendapatkan nomor pin.
Dalam waktu 20 menit dia si Pencuri telah berhasil menarik semua uang yang
ada dalam rekening bank Sang Istri Sebanyak Rp. 30 juta !!! Jadi ingat
dengan
kejadian di atas, pikirkan kembali dgn memperlihatkan hubungan anda dengan
orang2 yg ada dalam phonebook HP anda. Hindari penggunaan nama Rumah,
Home, Sayang,Suami, Cinta, Ibu, Ayah, dsb... dan yang paling penting :
Ketika
informasi yg sangat penting diminta lewat SMS, konfirmasi dengan
menelepon balik !! Jangan mudah memberikan info tersebut hanya karena yg
meminta adalah pasangan/pacar anda & keluarga dekat anda lewat SMS.
INGAT INGAT !! bahwa selalu ada kemungkinan HP km dicuri / berada di tangan
orang lain !!

AKU INGIN MENULIS KEMBALI…

Sudah lebih dari tiga minggu ini aku tidak menulis dan lebih dari satu bulan aku tidak membaca buku. Aku menjadi sangat haus dan lapar…Jari-jariku terasa kaku dan otakku terasa kurang lagi sensitive melihat lingkungan di sekelilingku. Ada begitu banyak ide menulis yang muncul, datang dan pergi. Tidak berbekas karena aku tidak mengandung (ide) dan melahirkannya ke dalam sebuah tulisan (diambil dari tulisan Zadok). Lalu kucoba merenungkan apa sebenarnya yang menjadikanku begitu ingin menulis?

Kudapati, karena aku ingin berbagi, menguatkan bahkan menginspirasi teman-temanku dan para pembaca. Aku ingin melalui tulisanku orang tertawa, tersipu malu, bahkan mungkin menangis. Aku ingin mereka mendapatkan sesuatu yang berarti yang dapat menggugah hidup mereka.

Bagiku menulis juga membuatku terus peka melihat, mengecap dan merasakan lingkungan di sekitarku. Tulisan membuatku terus bertumbuh dan peduli.

Terima kasih untuk Zadok, yang telah membuatku berani dan tidak menunda-nunda untuk menulis. Tulisan-tulisannya telah menginspirasiku untuk juga terlibat di dalam pelayanan yang besar ini, termasuk ketika saat ini, sudah hampir tiga minggu aku tidak menulis. Kubaca kembali tulisan-tulisan Zadok untuk mendapatkan semangat kembali, seperti yang dulu kudapatkan saat pertama kali aku mulai menulis.

Thanks dok, bagiku dirimu adalah sahabat, guru, motivator, sekaligus adik. Mungkin ini bagian dari rencana Tuhan menempatkanmu di PMKY. Tetap semangat ya!!


Ditujukan terkhusus untuk Zadok
…untuk memotivasi diri
…untuk kembali menulis.

Kamis, 27 Agustus 2009

PAPIKU: ANTARA PENDIDIKAN DAN KEBEBASAN EKONOMI (SEBUAH INSPIRASI AKAN PERJUANGAN LEPAS DARI CENGKERAMAN KEMISKINAN)

Aku masih ingat dengan jelas ketika papi harus digendong beberapa orang teman kerjanya kembali ke rumah, ketika itu sekujur tubuh papi lemas dan lumpuh tak bisa bergerak. Pagi itu, mami sudah melarang papi untuk berangkat kerja, tapi karena kebutuhan ekonomi terlebih untuk membiayai cece dan kokoku yang masih kuliah, iapun memaksakan diri. Terpancar dari sorot matanya untuk terus bekerja-dan bekerja, untuk membiayai kami sekolah, supaya kami tidak mengalami nasib seperti dirinya, menjadi sopir dan hidup di jalanan.
Papi hanyalah lulusan SMP, sempat melanjutkan ke STM tapi karena tekanan ekonomi yang dialami oleh kakek, papipun memutuskan untuk bekerja. Sejak kecil papi sudah mengalami hidup sulit karena tekanan ekonomi. Delapan bersaudara dimana kakek adalah seorang buruh di sebuah perusahaan ekspedisi. Kuingat ketika papi berulang-ulang menceritakan kisah hidup masa kecilnya, makan dengan lauk yang harus dibagi sedikit-sedikit supaya cukup dan bagaimana papanya sering mendisiplinkan mereka, khususnya dalam pendidikan, memukul sebanyak rasio kesalahan apabila salah menjawab perkalian ataupun pembagian.
Pada dasarnya papi adalah anak yang cerdas, bahkan ia pernah mendapat nilai aljabar 10 (sempurna) saat ujian nasional SMP, oleh karena itulah papi sering mengatakan bahwa ia lah yang paling disayang oleh kakek karena kecerdasannya. Hadiah yang sering diberikan kakek kepada papi adalah diajak keliling kota Lasem dengan sepeda. Dan Papi selalu bangga ketika menceritakan kisah ini, meski sudah berulang-ulang diceritakan. Dan terlihat begitu bangganya papi kepada papanya.
Setelah keluar dari sekolah papi bekerja di beberapa tempat, diantaranya Jakarta dan Banyuwangi. Di Banyuwangi, papi bekerja di sebuah percetakan yang membuatnya kehilangan satu ruas jari telunjuknya karena sebuah kecelakaan kerja. Setelah melanglang ke beberapa tempat, papi pulang ke Lasem dan menikah dengan mami. Bekerja mulai dari berjualan SDSB (judi yang legal saat itu) sampai akhirnya menjadi sopir truck kurang lebih selama 10 tahun. Masa sekolahku, mulai dari SD sampai SMA dibiayai papi saat papi menjadi sopir. Penghasilan seorang sopir saat itu lumayan tetapi sangat beresiko. Penghasilan papi saat itu bisa membiayai ceceku kuliah, meski saat kokoku masuk kuliah situasinya menjadi lebih sulit. Resiko yang dilalui papi selama menjadi sopir sangat mengerikan, apalagi ketika mengangkut ikan segar ke Jakarta, mulai dari kecepatan di atas 90 km/jam supaya sampai tujuan tepat waktu juga ancaman preman jalanan dan beberapa kali kecelakaan yang dialami papi. Papi pernah bercerita bahwa beberapa temannya yang menjadi sopir ikan meninggal dan beberapa yang lain cacat seumur hidup karena kecelakaan. Tapi papi sangat rajin saat itu dan nyaris tidak pernah libur, karena tuntutan kebutuhan ekonomi dan iming-iming pendapatan yang lumayan. Kisah yang mengawali tulisan ini adalah saat papi masih menjadi sopir ikan, dan aku selalu ingin menangis saat mengingat kejadian di pagi itu. Juga saat mengingat mami menangisi papi ketika itu. Hatiku pilu.
Selain perjuangan papi dalam bekerja, aku juga ingat setiap detil peristiwa yang papi lakukan terhadap kami selama kami sekolah, mulai dari memberikan uang sekolah yang tidak pernah terlambat sekalipun harus berhutang, buku-buku sekolah kami yang selalu tersampul rapi lengkap dengan nama-alamat-bidang study yang ditulis latin nan indah gaya tulisan orang kuno, selalu siap minimal 1 jam sebelum pengambilan rapor dengan celana panjang dan baju resmi diikat dengan ikat pinggang hitam dan sepeda yang selalu mengantarnya, dan selalu menceritakan ke orang lain tentang prestasi kami meski beberapa dari kami seringkali merasa tidak nyaman. Papi juga selalu mengatakan bahwa yang bisa ia berikan kepada kami hanyalah kepintaran, kalau kami pintar, kami tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan yang baik dan orang juga tidak akan meremehkan kami. Aku masih ingat ketika aku masih SMP, dan melihat kakak kelas yang mendapat peringkat 10 besar, orang tua mereka diundang dan diberikan penghargaan karena prestasi anaknya. Saat itu aku bermimpi untuk bisa meraih prestasi itu dan puji Tuhan aku berhasil mendapatkannya, peringkat 6. Aku masih mengingat betapa bangganya papi kepadaku saat itu. Dan prestasi itu juga diraih oleh saudara-saudaraku yang lain dan aku meyakini mereka juga ingin mempersembahkan prestasi mereka untuk papi juga mami.
Kini usia papi sudah 58 tahun dan mami 57 tahun. Beberapa tahun yang lalu papi terserang tetanus yang nyaris merenggut nyawanya, meski sekarang sudah sehat kembali tetapi tetap saja kondisi fisiknya semakin melemah. Badannya yang dulu kuat, kini sudah lemah, bahkan mengendarai mobilpun kini papi sudah takut karena tangannya yang sering gemetar. Kulitnya yang hitam dan kasar menjadi bukti kerja kerasnya untuk menyekolahkan kami. Wajahnya yang sudah keriput dan giginya yang sudah ompong menjadi bukti ketidakberdayaanya melawan hukum alam. Mami juga saat ini sering sakit-sakitan, maagnya sering kambuh dan jantungnya berdebar-debar. Aku berdoa kepada Tuhan, semoga mereka diberikan umur yang panjang sehingga dapat melihat kami berlima hidup rukun dan memiliki keluarga yang bahagia. Dan aku juga berdoa semoga Tuhan dengan anugerahNya yang tak terbatas menyentuh hidup mereka, sehingga mereka dapat memahami bahwa Tuhan mengasihi mereka dan dapat membasuh luka-luka hidup masa lalu mereka. Kini, kami berlima telah menempuh pendidikan tinggi, Sarjana Ekonomi, Dokter, Sarjana Ekonomi, Sarjana Teknik, dan “calon” dokter dan kami bangga dengan pencapaian kami masing-masing dan kuyakin begitu juga papi dan mami.
Papi (juga mami) adalah alasanku untuk terus belajar dan belajar, sekolah dan sekolah. Kuingin membuatnya bangga, untuk membuktikan kepadanya bahwa perjuangannya untuk menyekolahkan kami tidaklah sia-sia. Bahwa setiap keringat dan air matanya tidak akan pernah menjadi sia-sia. Meski belakangan kupahami bahwa tujuan sekolah bukanlah semata-mata untuk mendapatkan uang, tapi satu hal yang kutau adalah semua yang papi lakukan dan tanamkan kepada kami adalah karena papi mencintai kami. Terima kasih untuk semua perjuangan dan cintamu Pi. Kami mengasihimu!

Kupersembahkan tulisan ini untuk papi,mami dan keempat saudaraku
Sebagai bentuk kecintaanku kepada mereka, khususnya papi dan mami
ditulis pada hari Minggu siang 23 Agust 2009 pukul 11:04 di Sekretariat Perkantas
saat kepalaku masih nyeri, tapi keinginan untuk menulis begitu kuat