
Seorang bocah 14 tahun, berlari dari kejaran air setinggi lebih dari 7 meter menuju sebuah rumah. Di dalam salah satu ruangan rumah itu, air bah masuk dan semakin meninggi. Dia memanjat kursi, meja dan almari sampai kepala sudah membentur langit-langit ruangan. Seolah inilah akhir dari hidupnya, sampai kemudian sebuah doa keluar dari mulutnya yang penuh ketakutan, “Tuhan, kalau aku bisa selamat, aku akan menyerahkan hidupku kepadaMu”. Mujizat pertama terjadi, air berhenti tepat di bawah bibirnya.
Inilah sepenggal kisah mengerikan yang dihadapi oleh seorang anak 14 tahun, 5 tahun yang lalu.
Seperti anak-anak pada umumnya, dia tumbuh besar di kota Banda Aceh. Dia adalah anak sulung dengan dua orang adik laki-laki. Besar di dalam keluarga yang sangat rukun dan bahagia, penuh kasih dan kehangatan keluarga. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter yang sangat terpandang di daerah tersebut. Meski demikian, dia mengatakan bahwa dirinya dulu seorang anak yang nakal, meski tetap berprestasi di sekolah. Kehidupannya sejak kecil juga tidak lepas dari lingkungan gerejawi karena kedua orang tuanya juga adalah seorang aktivis gereja.
Saat kisah ini dibagikan kepadaku, dia mengatakan
“Kak, sebelum semuanya terenggut dariku, aku memiliki keluarga yang sangat sempurna. Aku memiliki ayah dan ibu yang sangat hebat. Aku sering melihat ayah mengobati pasien di rumah, bahkan saat pasien tidak punya uang untuk membayar sekalipun, ayah tetap mengobatinya dan memberinya obat. Kelak, aku ingin menjadi seperti ayah, bahkan ingin lebih hebat dari ayah”
Tragedi ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Dua hari sebelum peristiwa itu dia mengikuti sebuah kebangunan rohani. Saat itu dia maju ke depan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan berdoa, entah ini firasat atau tidak, dia berdoa : “Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku kepadamu, tetapi apabila terjadi sesuatu kepadaku atau keluargaku, tolong kuatkan aku”. Malam harinya dia menikmati tradisi Christmas Carol bersama keluarganya (ayah, ibu dan kedua adiknya), berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bernyanyi dan menyambut Natal dan berakhir di rumahnya sendiri. Momen langka dan baru pertama kalinya ia nikmati bersama keluarganya, meski tetap dengan penjagaan pihak kepolisian. Inilah momen terindah yang ia nikmati sebelum tragedi mengerikan merenggut ratusan ribu nyawa di bumi serambi Mekah ini.
Hari itu adalah hari minggu, 26 Desember 2004. Seperti biasa ibuya menjemput kedua adiknya di gereja setelah mengikuti sekolah minggu dan ayahnya baru saja menerima pasien yang datang untuk berobat meski hari libur. Masih begitu lekat di ingatannya ketika itu ia menyapa ibunya “Pagi,mom…”. Kata-kata terakhir yang terucap dari mulutnya kepada ibunya.
Ketika itu gempa besar terjadi. Semua kepanikan melanda banda Aceh, tetapi kepanikan itu segera mereda setelah gempa berakhir. Bocah kecil ini meminta ijin kepada papanya yang saat itu masih di rumah untuk berkeliling sekitar lingkungan untuk melihat kondisi bangunan. Di sepanjang perjalanan keliling dia bertemu dengan papanya yang menyuruhnya segera pulang, tetapi dia menolak dan tetap tinggal di lingkungan gereja, ketika itu mama dan kedua adiknya sudah pulang ke rumah. Jarak gereja dengan rumah memang tidak jauh, sekitar 1 km saja.
Ketika itu dia melihat air setinggi lebih dari 7 meter mengarah kepadanya, sangat deras, yang kemudian memaksanya segera masuk ke dalam ruangan rumah, memanjat meja, kursi, sampai air berhenti naik tepat di bawah bibirnya. Saat air mulai turun ia segera berusaha keluar dan memanjat atap rumah. Dari situ bersama seorang temannya yang selamat, mereka berdoa supaya Tuhan menyelamatkan keluarga mereka, bocah kecil ini secara sadar mendoakan keluarga temannya, meski ketakutan kehilangan keluarganya sendiri begitu kuat. Apalagi ketika ia ketahui bahwa rumahnya telah hancur, rata dengan tanah setelah ditabrak kapal ikan yang terbawa arus. Tetapi setidaknya dengan ia mendoakan temannya, ia mendapatkan kekuatan.
Pagi, siang dan sorepun berlalu, mayat telah bergelimpangan.Tidak ada bahan makanan. Ia bersama beberapa teman gerejanya bergabung di dalam gedung gereja, di lantai dua. Mujizat kedua terjadi, mereka menemukan seekor ikan tuna besar tersangkut di pohon dan memastikan bahwa mereka dapat makan malam setelah seharian tidak makan. Di dalam keheningan malam itu, ketakutan kehilangan kedua orang tua dan kedua adiknya semakin kuat. Dia masuk ke dalam salah satu ruangan gereja yang sangat gelap dan dia berdoa :
“Tuhan, kalo memang Tuhan mau menyelamatkan mereka, Tuhan pasti sanggup tetapi kalopun Tuhan sudah memanggil mereka, tolong kuatkan aku”.
Doa inilah yang terucap dari mulut seorang bocah kecil berumur 14 tahun yang menanggung kesedihan yang menyakitkan, ketika ia tahu bahwa keluarga temannya yang ia doakan tadi selamat, tetapi keluarganya sendiri tidak kunjung datang. Tetapi sesungguhnya doa ini adalah mujizat ketiga, karena mungkinkah seorang bocah seusia itu dapat menanggung beban seberat itu, kalo bukan Tuhan sendiri yang hadir menemaninya?
Kisah ini diceritakannya kepada kami di dalam diskusi kelompok kecil. Sesekali kuusap air mata yang tak dapat kutahan, saat mencoba merasakan kepedihan adikku ini. Tetapi, sesungguhnya dia sudah begitu kuat untuk menanggung ujian ini. Ceritanya sungguh lantang, seakan ia sudah berdamai dengan masa lalu dan dengan Tuhannya. Diapun melanjutkan ceritanya, dia mengatakan bahwa keesokan harinya ia dibawa ke kota Medan oleh saudaranya. Dan kemudian ia melanjutkan studi ke Jakarta dengan fakta bahwa ia harus hidup sendiri tanpa kedua orang tua dan kedua adik yang sangat ia cintai dan mencintainya. Ia mengatakan pergumulan terbesarnya setelah kehilangan keluarga ialah fakta bahwa ia harus tinggal serumah bersama saudaranya yang tidak begitu dekat dengannya. Meski keluarga barunya ini menganggapnya seperti “anak sendiri” tetapi keluarga kandungnya tetap tidak tergantikan. Proses terus ia jalani sampai kemudian ia bisa benar-benar dekat dengan keluarga barunya ini.
Kemudian ia mengatakan kepada kami
“Kak, inilah meujizat selanjutnya, Tuhan memang mengambil keluargaku, tetapi Tuhan telah menyediakan lebih banyak keluarga buatku dan mereka mencintaiku. Kisahku tidak jauh berbeda dengan kisah Ayub dan aku mendapatkan kekuatan kembali setelah merenungkan kisah Ayub”.
Inilah mujizat keempat pikirku, sambil merenungkan bahwa aku tidak lagi melihat “Ayub” dengan membaca Alkitab, tapi kini “Ayub” benar-benar duduk di hadapanku untuk menceritakan kisah imannya. Sekali lagi yang memilukan adalah “Ayub modern” ini masih berusia 14 tahun kala itu. Sekali lagi hatiku kelu.
Kamipun menutup diskusi dan sharing kami di dalam doa. Di dalam doa yang kupimpin, aku mendoakan semoga adikku ini terus dikuatkan dan dapat menyatakan “iman raksasanya” kepada semakin banyak orang. Termasuk kepada kami. Saat doa, kudengar isak tangis kerinduannya kepada kedua orang tuanya dan adiknya, akupun tak kuasa menahan tangis.
Setelah doa berakhir, di dalam sendau gurau kami sebelum pulang, dia mengatakan bahwa dia tetap bisa berprestasi di sekolah dan berhasil masuk Fakultas Kedokteran yang ia cita-citakan sejak kecil ketika melihat papanya praktek. Inilah mujizat keenam.
Di dalam kesibukannya sekolah di Jakarta ia harus mengurus juga surat kematian keluarganya, bahkan mengurusi tanah dan rumahnya yang telah direnovasi pemerintah yang kini disewakan kepada orang lain. Saat kutanya, bagaimana dengan bea studi dan bea hidupnya, ia mengatakan bahwa tabungan papanya sudah cukup untuk membiayainya sampai menjadi dokter, apalagi ditambah dengan uang sewa rumahnya. Kuyakin inilah mujizat ketujuh.
Terakhir kudengar bahwa adikku yang tidak lagi bocah ini sempat dikirim ke Malaysia untuk mewakili kampusnya.
Kisah ini menguasaiku berminggu-minggu. Aku ingin adikku ini menuliskan sendiri kisahnya ke dalam sebuah buku supaya dapat dibaca dan menguatkan sebanyak mungkin orang. Disaat begitu banyak orang Kristen kehilangan imannya karena masalah-masalah yang mereka hadapi, bahkan mencoba mengakhiri hidupnya alias bunuh diri. Si bocah kecil berusia 14 tahun ini, bukannya putus asa tetapi justru semakin bergantung dan mengenal Tuhannya sebagai pribadi yang begitu dekat dengannya. Aneh, sulit dan begitu dalam.
Pertanyaan buatku dan buatmu : Mungkinkah tidak ada Tuhan, kalo bocah sekecil itu dapat menahan beban seberat itu? – Amin-
NB : Ketika adikku ini merindukan keluarganya, ia selalu bermimpi bertemu dengan mereka semua
Ditulis pada tanggal 7 januari 2010 pukul 20.00 WIB
Untuk kembali mengingat kisah ini
Sebagai refleksi bahwa kekuatan dan penghiburan hanya datang dari Tuhan
Dan DIA tetap memegang kendali

Tulisan yang luar biasa...mas Sigit sangat berbakat jadi motivator...
BalasHapusSukses!
Tks Daniel.moga bisa mjd berkat...
BalasHapus