
Hari itu adalah hari Sabtu, tanggal 19 September 2009, saat Menteri Agama Republik Indonesia menetapkan bahwa keesokan harinya, yaitu tanggal 20 September 2009 adalah 1 Syawal 1430 Hijriyah. Hari yang dinanti oleh jutaan umat Muslim dunia, khususnya umat muslim Indonesia, setelah satu bulan penuh menahan haus dan lapar, nafsu serta segala bentuk keinginan diri.
Jutaan orang dari pelosok desa dan kota di negeri ini pulang ke kampung halaman, bahkan juga para “pahlawan devisa” kita, dari negeri tetangga. Tidak hanya umat muslim, tetapi akupun “seorang Kristen” pulang juga. Di sepanjang perjalanan pulang itulah aku merenung dan muncullah sebuah pertanyaan di dalam diriku “Inikah realita surga yang turun ke bumi?”
Siang itu pukul 12.00, tanggal 19 September 2009, setelah aku pulang lebih awal dari kantor, membeli buku untuk kakak perempuanku di rumah, makan siang dan packing, akupun siap mudik.
Perjalanan untuk sampai ke rumah cukup panjang, aku harus berganti bus sesampainya di kota Semarang, menyusuri pantura menuju kota Lasem tercinta, tempat aku menghabiskan masa kecilku. Total jarak sekitar 550 km dengan waktu tempuh 6-8 jam. Akupun naik bus Patas dari Jogja menuju Semarang dan menikmati kenyamanan beristirahat alias terlelap. Sesampainya di kota Semarang aku berganti bus non-patas (karena tidak ada yang Patas) dan perenunganpun dimulai.
Saat bus menyusuri kota Demak yang terkenal dengan sebutan kota wali itu (para tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa) aku menemukan pemandangan yang baru kali ini benar-benar kuperhatikan. Aku melihat tempat-tempat pemakaman di sepanjang jalan kota Demak penuh dengan masyarakat sekitar berpakaian muslim, beberapa dari mereka berdoa, ada juga yang hanya membersihkan ilalang di sekitar makam. Tempat pemakaman yang kesehariannya sunyi senyap kini menjadi ramai. Inilah momen untuk mendoakan dan mengenang kembali keluarga yang telah tiada. Sembari masih merenungkan hal itu, kutatap perlahan setiap wajah penumpang yang ada di sekelilingku, kulihat kelelahan sekaligus kebahagiaan yang mendalam terpancar dari wajah mereka, kerinduan untuk segera bertemu dengan sanak family tercinta. Tuhan, inikah gambaran surga nantinya, pikirku sejenak sambil memandangi hamparan hijau sawah di kanan kiriku, seperti permadani hijau nan indah. Saat semua keadaan itu membuai pikiranku, tiba-tiba ide brilian muncul dari dalam isi kepalaku, yah….betul….inilah momen “pengampunan massal!”.
Idul Fitri bagi umat muslim adalah momen untuk kembali Fitrah, kembali suci, momen untuk bermaaf-maafan dan saling mengampuni. Mengingat bahwa jumlah umat muslim di Indonesia adalah mayoritas baik di dalam negeri maupun dunia, akupun berpikir “Inikah rekonsiliasi massal bangsa kita di tengah segala kebobrokan relasi dan kompetisi dunia yang menakutkan? Dan Apa yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku melalui momen ini? Bagaimana perasaan Tuhan melihat umat ciptaanNya saling bermaaf-maafan?”.
Tuhan mungkin bersorak, atau diam terharu atau mungkin sampai menangis, menangis karena “kasih dan pengampunan” itulah kerinduan terbesarnya. Dan pada momen inilah DIA dapat menyaksikan semuanya itu.
Ketika kusaksikan lagi pemandangan di sekitarku, aku baru menyadari bahwa langit mendung dan akhirnya hujan turun, seakan membenarkan apa yang kupikirkan. “Mungkin betul, bahwa Tuhan menangis terharu”. Mungkin Tuhan menangis terharu saat melihat adanya kasih dan pengampunan yang dibagikan di tengah dunia yang penuh dengan dendam dan kebencian, dunia yang penuh dengan kompetisi dan kesombongan diri. Lihatlah betapa indahnya momen ini, saat jutaan orang kembali ke kampung halaman, melupakan sejenak kejamnya dunia kerja, melupakan sejenak kompetisi hidup, dan ke”gilaan” mencari uang untuk kembali pulang, mencium ayah dan ibu dan sanak familinya untuk mengucapkan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” sebagai tanda bahwa semua kesalahan telah dimaafkan dan relasi yang baru kembali terjalin. Momen ini membuktikan bahwa tidak ada lagi yang lebih penting di dunia ini selain “orang yang kita cintai”, keluarga dan relasi antar manusia. Dan relasi yang indah itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya kasih dan pengampunan, karena setiap kita berdosa, setiap kita pernah dan bisa berbuat salah.
Lalu kuingat pesan Yesus di dalam perumpamaan “anak yang hilang”. Saat seorang anak durhaka pulang kembali ke rumah, bukannya penghakiman dan penolakan yang Tuhan berikan, tapi justru pelukan, ciuman, pesta penyambutan dan kemenangan yang luar biasa, karena seorang anak yang hilang telah kembali, anak yang mati telah hidup kembali. “Tuhan, begitu dalam cintamu kepada kami yang tak mampu kami salami”, akupun terdiam. Dan itulah kasih karunia, kasih yang tak bersyarat.
Nampaknya kita perlu belajar dari saudara-saudara kita yang muslim. Kalau mereka punya momen untuk saling mengampuni, kapan kita punya momen itu? Momen dapat mengingatkan kita akan pesan penting ini, tetapi pengampunan sejujurnya dapat dilakukan setiap saat. Maukah kita belajar mengampuni orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita? Maukah kita menjadikan lingkungan kita sebagai surga bagi sesama? Aku yakin, inilah realita surga yang turun ke bumi, dan aku terpesona akan keindahannya.
Ditulis pada pada jam 20.00, 24 Sept 2009
Sebagai kekaguman akan cinta kasih Tuhan
yang universal bagi umat manusia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar