Minggu, 24 Januari 2010

AKU INGIN MENOLONG, BUKAN UNTUK MENJERUMUSKAN…

Sebuah keluarga kecil, ayah, ibu dan seorang anak hidup di dalam sebuah rumah padat penduduk. Pasangan suami istri ini keduanya bekerja. Mereka hanya bisa bertemu dengan “bocah bandel” mereka saat malam tiba. Kehangatan bersama keluarga yang dicintai adalah dambaan setiap keluarga, tentu juga keluarga ini. Tetapi sayang, relasi dan konsep yang terbangun di dalam keluarga sangat bermasalah. Singkatnya, istri sulit menghormati suami, dan suami tidak mengasihi istri sebagaimana mestinya. Siapa yang menjadi korban??? Tentu saja anak mereka.
Salah satu masalah yang nampak di dalam keluarga ini adalah masalah keuangan. Konon katanya gaji sang istri hanya sedikit di atas UMR, dan gaji sang suami dua kali lipat gaji istri. Kalo gaji mereka berdua dijumlahkan, seharusnya dapat mencukupi kehidupan rumah tangga mereka. Tetapi “unik”nya mereka selalu hidup di dalam kekurangan. Bahkan mereka selalu tidak mampu membiayai pengobatan anak mereka yang masih mungil, karena mereka tidak pernah bisa menabung, uang selalu habis. Dan mereka selalu mengatakan “kebutuhan terus bertambah dan banyak”.
Di dalam kesendirian aku merenungkan…Apakah ini masalah keuangan ataukah masalah karakter dan hubungan mereka??? Aku berharap aku dapat menjawabnya.

Keluarga yang lain tinggal di dalam rumah kayu tua, suami istri dengan enam orang anak. Sang suami seorang kondektur bus dengan penghasilan yang tidak tentu. Mereka hidup di dalam kesederhanaan, sesekali mereka harus ber-hutang untuk menyambung hidup mereka, tetapi lebih sering mereka bertahan di dalam kesederhanaan, makan dengan tempe dan sambal dengan ucapan syukur. Kulihat mereka sangat bahagia, hidup dalam canda tawa. Mau tau kelanjutannya? Mereka berhasil meng”GOL”kan ke-enam anak mereka menjadi sarjana. Eh…bukan mereka, tapi mereka kepada anak pertama, anak pertama kepada anak kedua dan seterusnya.
Di dalam kesendirian aku merenungkan…Mengapa mereka mampu melewati segala kondisi mereka dan bahkan berhasil menyekolahkan ke-enam anak mereka? Aku berharap aku dapat menjawabnya.

Keluarga yang terakhir adalah keluarga yang kaya. Suami istri dengan lima orang anak wanita. Sang suami sibuk mengurusi sebuah toko meubel, dan sang istri sibuk mengurusi sebuah toko otomotif. Kaya raya bukan??? Tapi sayangnya mereka berdua tidak memiliki komunikasi yang baik di dalam keluarga, bahkan sering bertengkar di hadapan anak-anak mereka. Saking sibuknya mereka tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan ke-lima anak mereka. Uang bukan masalah bagi keluarga ini. So…apa yang seharusnya mereka butuhkan?
Mau tau apa yang terjadi? Anak pertama mereka terpaksa harus dinikahkan karena “kehamilan” yang tidak diinginkan.
Di dalam kesendirian aku merenungkan…Mengapa ekonomi yang sangat baik juga tidak menjadi standar keharmonisan keluarga? Dan mengapa “kehamilan” yang tidak diinginkan itu dapat terjadi? Sekali lagi, aku berharap aku dapat menjawabnya.

Aku berdiri dalam persimpangan, aku berpikir dengan keras, apa yang harus kulakukan…
Aku ingin berkata dengan tegas bahwa uang bukanlah “sumber” masalahnya, tapi apakah dia bisa mengerti….karena secara nyata mereka butuh uang “saat itu”.
Aku ingin menolong…sesungguhnya aku benar-benar ingin menolong…
Dan aku tahu bahwa uang bukanlah solusinya….tetapi KARAKTER!
Semoga Tuhan membuat mujizat-mujizat kecil di dalam keluarga-keluarga tersebut.

Ditulis sebagai doa…
Dan refleksi bagi kita semua
Baik sebagai anak maupun calon orang tua.
Minggu, 24 Januari 2010 pukul 19.00 WIB di kos…

Sabtu, 23 Januari 2010

DIAM…ITULAH SUMBER KEKUATANMU




Aku hidup dalam dunia yang sibuk, kebisingan ada dimana-mana…
Kompetisi, berjuang untuk hidup dan uang menjadi rutinitas yang tak terelakkan…
Dalam keterbatasanku aku menjadi seperti sebutir pasir yang terbawa oleh derasnya air sungai kehidupan…semakin rendah dan mungkin akan terjun bebas
Aku datang kepada Tuhan dalam doa pagi dan malamku, tetapi tetap tak terpuaskan…
Seakan Tuhan diam…
Aku merasa, mungkin fisikku yang kelelahan…dan akupun tidur lebih lama.
Tapi tetap saja kelelahan itu tak tersembuhkan…
Mungkin aku butuh nonton film, tapi yang kudapati, itu hanya menyegarkan sesaat

Lalu apa yang harus kulakukan???

Mungkin aku butuh retreat, aku butuh waktu sendiri…
Itulah yang kupikirkan, tetapi tetap saja kesibukan menghalauku…
Sampai akhirnya, ada seminar tentang “Spiritualitas Kristen”
Saat itu kami diminta untuk berdiam diri selama 10 menit….
Kurasakan di dalam keheningan itu ada banyak suara dan pikiran yang menggangguku
Kuminta kepada Tuhan agar menolongku untuk bisa “diam”
Sampai akhirnya semua pikiran itu bermunculan, semua dosa dan kesalahanku bahkan hal-hal yang pernah kujanjikan pada diriku sebagai solusi dari semua masalahku ikut bermunculan…
Dan akhirnya aku benar-benar bisa “diam”…
Kedamaian yang sangat indah dapat kurasakan, ketenangan pikiran, hati dan jiwaku…meski hanya 10 menit
Dan itu sangat berharga…
Kini kutau bahwa aku butuh disiplin, aku butuh berkomitmen untuk bisa “diam”
Karena di dalam “diam” itulah aku betul-betul dapat merasakan kehadiran Tuhan di dalam dunia yang “bising”



Ditulis sebagai ucapan syukur karena telah ditolong lewat seminar ini
Thanks to Kak Tadius Gunadi…
Thanks to God…
Sabtu 23 Januari 2010, Pukul 23.00

Kamis, 07 Januari 2010

BOCAH KECIL BERIMAN RAKSASA (SEBUAH KISAH NYATA TRAGEDI TSUNAMI ACEH 2004)



Seorang bocah 14 tahun, berlari dari kejaran air setinggi lebih dari 7 meter menuju sebuah rumah. Di dalam salah satu ruangan rumah itu, air bah masuk dan semakin meninggi. Dia memanjat kursi, meja dan almari sampai kepala sudah membentur langit-langit ruangan. Seolah inilah akhir dari hidupnya, sampai kemudian sebuah doa keluar dari mulutnya yang penuh ketakutan, “Tuhan, kalau aku bisa selamat, aku akan menyerahkan hidupku kepadaMu”. Mujizat pertama terjadi, air berhenti tepat di bawah bibirnya.

Inilah sepenggal kisah mengerikan yang dihadapi oleh seorang anak 14 tahun, 5 tahun yang lalu.

Seperti anak-anak pada umumnya, dia tumbuh besar di kota Banda Aceh. Dia adalah anak sulung dengan dua orang adik laki-laki. Besar di dalam keluarga yang sangat rukun dan bahagia, penuh kasih dan kehangatan keluarga. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter yang sangat terpandang di daerah tersebut. Meski demikian, dia mengatakan bahwa dirinya dulu seorang anak yang nakal, meski tetap berprestasi di sekolah. Kehidupannya sejak kecil juga tidak lepas dari lingkungan gerejawi karena kedua orang tuanya juga adalah seorang aktivis gereja.

Saat kisah ini dibagikan kepadaku, dia mengatakan
“Kak, sebelum semuanya terenggut dariku, aku memiliki keluarga yang sangat sempurna. Aku memiliki ayah dan ibu yang sangat hebat. Aku sering melihat ayah mengobati pasien di rumah, bahkan saat pasien tidak punya uang untuk membayar sekalipun, ayah tetap mengobatinya dan memberinya obat. Kelak, aku ingin menjadi seperti ayah, bahkan ingin lebih hebat dari ayah”

Tragedi ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Dua hari sebelum peristiwa itu dia mengikuti sebuah kebangunan rohani. Saat itu dia maju ke depan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan berdoa, entah ini firasat atau tidak, dia berdoa : “Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku kepadamu, tetapi apabila terjadi sesuatu kepadaku atau keluargaku, tolong kuatkan aku”. Malam harinya dia menikmati tradisi Christmas Carol bersama keluarganya (ayah, ibu dan kedua adiknya), berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bernyanyi dan menyambut Natal dan berakhir di rumahnya sendiri. Momen langka dan baru pertama kalinya ia nikmati bersama keluarganya, meski tetap dengan penjagaan pihak kepolisian. Inilah momen terindah yang ia nikmati sebelum tragedi mengerikan merenggut ratusan ribu nyawa di bumi serambi Mekah ini.

Hari itu adalah hari minggu, 26 Desember 2004. Seperti biasa ibuya menjemput kedua adiknya di gereja setelah mengikuti sekolah minggu dan ayahnya baru saja menerima pasien yang datang untuk berobat meski hari libur. Masih begitu lekat di ingatannya ketika itu ia menyapa ibunya “Pagi,mom…”. Kata-kata terakhir yang terucap dari mulutnya kepada ibunya.
Ketika itu gempa besar terjadi. Semua kepanikan melanda banda Aceh, tetapi kepanikan itu segera mereda setelah gempa berakhir. Bocah kecil ini meminta ijin kepada papanya yang saat itu masih di rumah untuk berkeliling sekitar lingkungan untuk melihat kondisi bangunan. Di sepanjang perjalanan keliling dia bertemu dengan papanya yang menyuruhnya segera pulang, tetapi dia menolak dan tetap tinggal di lingkungan gereja, ketika itu mama dan kedua adiknya sudah pulang ke rumah. Jarak gereja dengan rumah memang tidak jauh, sekitar 1 km saja.

Ketika itu dia melihat air setinggi lebih dari 7 meter mengarah kepadanya, sangat deras, yang kemudian memaksanya segera masuk ke dalam ruangan rumah, memanjat meja, kursi, sampai air berhenti naik tepat di bawah bibirnya. Saat air mulai turun ia segera berusaha keluar dan memanjat atap rumah. Dari situ bersama seorang temannya yang selamat, mereka berdoa supaya Tuhan menyelamatkan keluarga mereka, bocah kecil ini secara sadar mendoakan keluarga temannya, meski ketakutan kehilangan keluarganya sendiri begitu kuat. Apalagi ketika ia ketahui bahwa rumahnya telah hancur, rata dengan tanah setelah ditabrak kapal ikan yang terbawa arus. Tetapi setidaknya dengan ia mendoakan temannya, ia mendapatkan kekuatan.

Pagi, siang dan sorepun berlalu, mayat telah bergelimpangan.Tidak ada bahan makanan. Ia bersama beberapa teman gerejanya bergabung di dalam gedung gereja, di lantai dua. Mujizat kedua terjadi, mereka menemukan seekor ikan tuna besar tersangkut di pohon dan memastikan bahwa mereka dapat makan malam setelah seharian tidak makan. Di dalam keheningan malam itu, ketakutan kehilangan kedua orang tua dan kedua adiknya semakin kuat. Dia masuk ke dalam salah satu ruangan gereja yang sangat gelap dan dia berdoa :

“Tuhan, kalo memang Tuhan mau menyelamatkan mereka, Tuhan pasti sanggup tetapi kalopun Tuhan sudah memanggil mereka, tolong kuatkan aku”.

Doa inilah yang terucap dari mulut seorang bocah kecil berumur 14 tahun yang menanggung kesedihan yang menyakitkan, ketika ia tahu bahwa keluarga temannya yang ia doakan tadi selamat, tetapi keluarganya sendiri tidak kunjung datang. Tetapi sesungguhnya doa ini adalah mujizat ketiga, karena mungkinkah seorang bocah seusia itu dapat menanggung beban seberat itu, kalo bukan Tuhan sendiri yang hadir menemaninya?

Kisah ini diceritakannya kepada kami di dalam diskusi kelompok kecil. Sesekali kuusap air mata yang tak dapat kutahan, saat mencoba merasakan kepedihan adikku ini. Tetapi, sesungguhnya dia sudah begitu kuat untuk menanggung ujian ini. Ceritanya sungguh lantang, seakan ia sudah berdamai dengan masa lalu dan dengan Tuhannya. Diapun melanjutkan ceritanya, dia mengatakan bahwa keesokan harinya ia dibawa ke kota Medan oleh saudaranya. Dan kemudian ia melanjutkan studi ke Jakarta dengan fakta bahwa ia harus hidup sendiri tanpa kedua orang tua dan kedua adik yang sangat ia cintai dan mencintainya. Ia mengatakan pergumulan terbesarnya setelah kehilangan keluarga ialah fakta bahwa ia harus tinggal serumah bersama saudaranya yang tidak begitu dekat dengannya. Meski keluarga barunya ini menganggapnya seperti “anak sendiri” tetapi keluarga kandungnya tetap tidak tergantikan. Proses terus ia jalani sampai kemudian ia bisa benar-benar dekat dengan keluarga barunya ini.

Kemudian ia mengatakan kepada kami

“Kak, inilah meujizat selanjutnya, Tuhan memang mengambil keluargaku, tetapi Tuhan telah menyediakan lebih banyak keluarga buatku dan mereka mencintaiku. Kisahku tidak jauh berbeda dengan kisah Ayub dan aku mendapatkan kekuatan kembali setelah merenungkan kisah Ayub”.

Inilah mujizat keempat pikirku, sambil merenungkan bahwa aku tidak lagi melihat “Ayub” dengan membaca Alkitab, tapi kini “Ayub” benar-benar duduk di hadapanku untuk menceritakan kisah imannya. Sekali lagi yang memilukan adalah “Ayub modern” ini masih berusia 14 tahun kala itu. Sekali lagi hatiku kelu.

Kamipun menutup diskusi dan sharing kami di dalam doa. Di dalam doa yang kupimpin, aku mendoakan semoga adikku ini terus dikuatkan dan dapat menyatakan “iman raksasanya” kepada semakin banyak orang. Termasuk kepada kami. Saat doa, kudengar isak tangis kerinduannya kepada kedua orang tuanya dan adiknya, akupun tak kuasa menahan tangis.

Setelah doa berakhir, di dalam sendau gurau kami sebelum pulang, dia mengatakan bahwa dia tetap bisa berprestasi di sekolah dan berhasil masuk Fakultas Kedokteran yang ia cita-citakan sejak kecil ketika melihat papanya praktek. Inilah mujizat keenam.

Di dalam kesibukannya sekolah di Jakarta ia harus mengurus juga surat kematian keluarganya, bahkan mengurusi tanah dan rumahnya yang telah direnovasi pemerintah yang kini disewakan kepada orang lain. Saat kutanya, bagaimana dengan bea studi dan bea hidupnya, ia mengatakan bahwa tabungan papanya sudah cukup untuk membiayainya sampai menjadi dokter, apalagi ditambah dengan uang sewa rumahnya. Kuyakin inilah mujizat ketujuh.

Terakhir kudengar bahwa adikku yang tidak lagi bocah ini sempat dikirim ke Malaysia untuk mewakili kampusnya.

Kisah ini menguasaiku berminggu-minggu. Aku ingin adikku ini menuliskan sendiri kisahnya ke dalam sebuah buku supaya dapat dibaca dan menguatkan sebanyak mungkin orang. Disaat begitu banyak orang Kristen kehilangan imannya karena masalah-masalah yang mereka hadapi, bahkan mencoba mengakhiri hidupnya alias bunuh diri. Si bocah kecil berusia 14 tahun ini, bukannya putus asa tetapi justru semakin bergantung dan mengenal Tuhannya sebagai pribadi yang begitu dekat dengannya. Aneh, sulit dan begitu dalam.

Pertanyaan buatku dan buatmu : Mungkinkah tidak ada Tuhan, kalo bocah sekecil itu dapat menahan beban seberat itu? – Amin-

NB : Ketika adikku ini merindukan keluarganya, ia selalu bermimpi bertemu dengan mereka semua

Ditulis pada tanggal 7 januari 2010 pukul 20.00 WIB
Untuk kembali mengingat kisah ini
Sebagai refleksi bahwa kekuatan dan penghiburan hanya datang dari Tuhan
Dan DIA tetap memegang kendali

Rabu, 06 Januari 2010

GUSDURmu, GUSDURku, GUSDUR kita semua…



Gus…
Tawamu yang khas kini tiada lagi
Candamu yang segar tak dapat lagi kudengar
Sepak terjangmu yang unik tak lagi bisa kutemui
“Gitu aja kok repot” selalu rindu tuk kudengar

Siapakah engkau Gus?
Siapakah yang engkau bela?
Apakah yang engkau perjuangkan?
di balik tubuh rapuhmu itu…

Saat hak-hak etnis Tionghoa dipasung selama 32 tahun, Engkau menjadi pembela mereka dan menjadi bagian dari mereka …
Saat gereja-gereja dirusak dan aksi pengobaman gereja menjadi terror yang mengerikan, engkau kirimkan satuan pengamanan…
Saat Inul Daratista dikecam, dimaki dan dikatakan sebagai perusak moral bangsa ini, engkau berfoto bersamanya dan menjadi pembelanya…
Saat Ahmadiyah dimusuhi dan hendak dihancurkan secara anarkis, engkau berada pada barisan terdepan untuk mengamankan mereka…
Saat kondisi politik begitu mencekam, engkau menjadi bapak bangsa yang dapat menjembatani mereka semua…

Darimu, kami belajar melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda…
Darimu, kami belajar melihat sesuatu lebih dalam dan lebih esensi…
Darimu, kami belajar menerapkan kasih yang universal tanpa terbatasi oleh tradisi dan agama…
Engkau menjembatani semua perbedaan kami, engkau bapa bagi semua agama dan suku dan kelompok apapun yang ada di bangsa ini…

Kini, engkau telah tiada…
Kepergianmu terlalu pagi bagi bangsa yang masih membangun ini…
Bangsa yang terlalu mudah tercerai berai karena perbedaan, apalagi soal agama…
Kepergianmu masih meninggalkan lubang menganga yang entah kapan segera dapat terisi…
Kepergianmu menjadi luka bagi kami, bagi bangsa ini, bagi kemanusiaan dan bagi dunia ini…
Semua komponen bangsa menangisi kepergianmu…
Islam, Kristen,Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, Etnis tionghoa…
Semua partai politik yang terbiasa berbeda pendapat, termasuk Presiden sekalipun kini satu suara mengusung engkau sebagai “PAHLAWAN NASIONAL”
Selamat jalan PAHLAWAN kami, Selamat jalan BAPAK PLURALISME…
Pengabdianmu bagi bangsa ini kan selalu kami kenang…
Kalau India memiliki “MAHATMA GANDHI”, bangsa ini memiliki “GUSDUR”

(Rasul Paulus berkata “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,
dan yang paling besar diantaranya ialah KASIH”)


ditulis pada hari Kamis, 7 Januari 2010,pukul 13.00
sebagai penghormatan kepada GusDur
yang telah menyatakan “iman”nya dengan “kasih yang nyata”