Minggu, 22 Agustus 2010

TUHANKU, AJAR AKU UNTUK MAU BELAJAR MENJADI PEMBELAJAR YANG MAU TERUS BELAJAR!


Learning by doing, Trial and Error…
Pengalaman hidup itu sangat mahal harganya
-dr. Gideon Hartono-


Ketika kita ditanya “Sampai kapan kita mau belajar?” kebanyakan kita akan menjawab sampai S1, S2, S3 atau mungkin sampai mendapat gelar Profesor.
Seringkali kita terjebak pada definisi formal belajar pada proses belajar formal yang sama-sama kita pahami, yang sebenarnya pada saat yang sama kita sedang “mempersempit” arti belajar itu sendiri.
Bagiku belajar adalah perjalanan seumur hidup kita, sampai kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Dan yang terpenting adalah belajarlah bagaimana caranya belajar (petuah dari salah seorang dosen Teknik Industri UGM yang masih kuingat), karena ketika kita menemukan cara kita belajar, dalam kondisi apapun kita bisa selalu belajar.
Tapi ternyata proses belajar itu tidak selalu asik untuk dijalani, terkadang justru proses yang menyakitkan dan menyebalkan. Sekali lagi, mengetahui bagaimana cara belajar menjadi kuncinya.
Aku bersyukur, selama mahasiswa hingga dunia kerja saat ini aku menemukan orang-orang yang telah menjadi Guru dan teladan dalam kehidupanku. Orang-orang sederhana yang mau terus belajar dan menjadi orang-orang yang luar biasa. Orang-orang yang memegang teguh visi dan panggilan hidup mereka, bertekun di dalamnya, bekerja keras dan tidak pernah mau kalah dalam keputus-asaan.
Seorang pertama, adalah seorang dokter-pendeta. Kukatakan demikian karena faktanya dia adalah seorang dokter sekaligus seorang pendeta mahasiswa di kampus. Kuingat ketika kami masi belajar alkitab bersama di rumahnya sampai tengah malam setiap minggunya, dengan kantuknya yang berusaha ditahan untuk mengajari kami meng-eksposisi alkitab, dengan kacamatanya yang mulai turun. Justru peristiwa itulah yang jauh lebih membekas dibanding semua paparan eksposisi alkitab yang dia sampaikan, karena peristiwa itulah yang meneguhkan ketekunan dan kesabarannya dalam membimbing kami. Ditambah lagi pelayanannya sebagai pembicara di berbagai kampus maupun terkadang di gereja yang mengharuskannya bangun dini hari pukul 3 untuk persiapan hampir beberapa hari dalam seminggu, karena permintaan pelayanan yang harus dia persiapkan, tentunya juga persiapan untuk membimbing kami, di tengah kesibukannya sebagai seorang wakil direktur sebuah Rumah Sakit, Ketua Yayasan Pelayanan Kristen, suami dan ayah dari dua orang putri. Dia pernah mengatakan bahwa dirinya selalu melakukan persiapan untuk pelayanan maupun menyelesaikan tugas-tugas kantor (kalaupun ada) ketika anak-anak telah tertidur, artinya dia tetap memprioritaskan perannya sebagai ayah dari dua orang anaknya ketika sudah ada di rumah. Suatu proses keseimbangan hidup pelayan Tuhan yang tidak mudah dewasa ini, yang tentu butuh pengorbanan, tapi suatu konsekuensi kebenaran yang harus dijalani. Oleh karenanya aku dapat menyaksikan langsung pemahaman dan pemaparan yang sangat baik dalam mengupas alkitab ketika dia membawakan Firman Tuhan sekalgus aku melihat kedekatannya dengan keluarga yang sangat bahagia.
Seorang kedua, adalah seorang dokter-preneur. Seorang praktisi dokter sekaligus seorang entrepreneur yang kemudian terjun menjadi seorang entrepreneur sejati. Pertama kali melihat sosoknya, yang muncul di pikiranku adalah ke-rendahanhati-nya, karena memang itulah fakta yang kuamati. Lebih jauh mengenal pribadi ini aku melihat keteguhan hatinya memegang visi dan konsep, disiplin, pekerja keras, berani, cerdas, negosiator ulung, pembelajar, entertainer sejati sekaligus seorang politikus. Suatu perpaduan langka yang membuatnya pernah nyaris menjadi seorang pemimpin daerah di kota pelajar Yogyakarta dan kini menjadi salah seorang entrepreuner sukses di Republik ini. Kecerdasannya dapat kutangkap dari kelihaiannya dalam melakukan lompatan-lompatan pemikiran saat berdiskusi dengannya, tetap tenang dan bisa tetap kembali fokus dalam hitungan detik, kembali pada topic pembicaraan. Suatu lalu-lintas aktivitas pemikiran yang sangat padat yang harus dia jalani untuk memimpin perusahaan yang sedang bersinar. Terkadang aku bingung sendiri dengan kecerdasaanya. Selain itu aku dapat melihat keteguhan hati dan keberaniannya dalam memegang visi dan konsep, keberanian dalam mengambil sebuah resiko yang sulit. Dan aku melihat kerja kerasnya yang luar biasa, rapat marathon, pertemuan-pertemuan penting sampai dengan sentuhan personal kepada bebarapa pribadi. Sungguh totalitas yang luar biasa.
Dan yang membuatku paling terharu sebenarnya ialah lagi-lagi kedekatannya dengan kedua anak lelaki dan istrinya. Sering aku melihat ketika anak atau istrinya masuk ruangan saat ia memimpin rapat, dia selalu memberikan sapaan hangat kepada mereka, seakan dia ingin selalu mengatakan kepada mereka : “Aku tetaplah ayahmu yang selalu mengasihimu! Aku adalah suami yang selalu mengasihimu”. Bayangkan kawan, betapa sulitnya menjaga keseimbangan sebagai seorang direktur dari 3 buah perusahaan, ketua yayasan sebuah institusi pendidikan Kristen, sekaligus menjadi suami dan ayah dari dua orang anak lelaki yang sedang beranjak remaja. Tentu tidak mudah.

Ada banyak pribadi lain yang telah menjadi guru dalam kehidupanku kini dan kemarin yang tak mampu kutuliskan satu-persatu. Tapi semua dari mereka memilki satu kesamaan, mereka adalah pembelajar yang rendah hati. Dan mereka adalah anak-anak Tuhan yang belajar untuk setia di tengah dunia yang bobrok, memegang visi dan panggilan mereka untuk menjadikan dunia ini menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.



Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Roma 12 : 2



Ditulis sebagai pengingat;
Bahwa kita adalah seorang murid sekaligus garam dunia
Jakarta, 22 Agustus 2010 pukul 22.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar