
Kalo kita ditanya, kapan waktu yang paling tepat untuk berbagi, mungkin kebanyakan dari kita mengatakan saat kita berlebih, atau setidaknya berkecukupan.
Sebuah jawaban yang logis, tapi seringkali jawaban tersebut hanyalah sebuah ucapan bibir semata, karena faktanya kita tidak pernah berkecukupan apalagi berlebih, lebih seringnya berkekurangan.
Lalu harus mulai darimana?
Pertanyaan inilah yang menjadi pesan inti dari tulisanku kali ini kawan.
Kemarin sore, aku dan fony hendak membawa barang-barang ke rumah kontrakan fony yang baru. Jogja mendung gelap sekali. Kami membawa banyak perabot rumah, termasuk diantaranya rak plastic 2 buah. Sejujurnya kami cukup kewalahan membawanya, ditambah harus buru-buru supaya tidak kehujanan, meski kami punya mantel, tapi rasanya memakai mantel pun barang-barang kami akan tetap basah.
Langsung kutancap gas saja, supaya kami segera sampai ke tujuan, tapi apa daya saat sampai di depan Rumah Makan SEDERHANA, hujan turun sangat deras yang memaksa kami harus berteduh. Ditambah kemacetan di Jakal menuju per-empat-an Traffic light yang menghambat laju perjalanan kami. Akupun berbelok masuk ke bengkel motor sebelah AHAS motor, tepat di seberang Rumah Makan Sederhana. Meski sedikit basah, kami merasa bersyukur karena bisa berteduh.
Sambil berteduh menunggu hujan agak reda, kami langsung sibuk meletakkan barang-barang yang memenuhi motor kami dan juga kedua tangan fony yang sudah memegang kedua rak plastic. Di dalam kesibukan dengan diri kami, terburu-buru karena kehujanan, keinginan untuk segera sampai dan karena aku sudah “kebelet” buang air kecil, sama sekali aku tidak memperhatikan beberapa orang yang turut berteduh bersama kami. Kamipun segera meletakkan beberapa barang yang kami bawa di atas motor, kecuali kedua rak plastic karena rasanya jok motor sudah penuh. Kami enggan meletakkannya di atas lantai karena lantai sangat kotor dengan oli bengkel. Akhirnya kami punya ide untuk melepaskan rakitan rak plastic tersebut, supaya menjadi lebih praktis untuk diletakkan di atas motor dan nantinya dibawa. Saat kami sibuk melepaskan satu-persatu rakitan, tiba-tiba seorang bapak setengah tua datang ke kami dengan membawa seutas tali raffia, sambil mengatakan : “Ini mas”, Wah terkejut sekali aku melihatnya dan langsung kuterima dan kuucapkan : “terima kasih pak”, karena memang dari awal tadi aku merasa sangat membutuhkan tali untuk mengikat kedua bongkaran rak plastic tersebut.
Taukah kau kawan, apa yang terjadi selanjutnya?
Ternyata bapak tersebut adalah seorang pemulung (meski kondisinya jauh lebih baik dari pemulung pada umumnya) yang juga ikut berteduh bersama kami di bengkel tersebut.
Sejujurnya aku sangat terharu dan tersentuh dengan apa yang bapak tersebut sudah lakukan bagi kami. Seutas tali rafia mungkin sangat tidak bernilai secara rupiah, tapi dibalik tindakan itu ada sesuatu yang sangat luar biasa. Ijinkan aku menyebutnya : tindakan sederhana dengan kasih yang besar.
Kenapa kukatakan seperti itu?
Karena dalam segala kondisi tersebut, sulit bagi seorang “sigit” melihat lingkungan sekitar, apalagi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Tapi bapak tersebut justru melakukan sebaliknya, dia melihat lingkungan sekitarnya dan melihat apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Dan dia mendapatkan jawabannya di dalam kesibukan kami : seutas tali rafia.
Kalau seorang pemulung yang notabene menjadi kelompok masyarakat yang butuh ditolong saja mampu menolong, apalagi kita?
Sebuah jawaban yang logis, tapi seringkali jawaban tersebut hanyalah sebuah ucapan bibir semata, karena faktanya kita tidak pernah berkecukupan apalagi berlebih, lebih seringnya berkekurangan.
Lalu harus mulai darimana?
Pertanyaan inilah yang menjadi pesan inti dari tulisanku kali ini kawan.
Kemarin sore, aku dan fony hendak membawa barang-barang ke rumah kontrakan fony yang baru. Jogja mendung gelap sekali. Kami membawa banyak perabot rumah, termasuk diantaranya rak plastic 2 buah. Sejujurnya kami cukup kewalahan membawanya, ditambah harus buru-buru supaya tidak kehujanan, meski kami punya mantel, tapi rasanya memakai mantel pun barang-barang kami akan tetap basah.
Langsung kutancap gas saja, supaya kami segera sampai ke tujuan, tapi apa daya saat sampai di depan Rumah Makan SEDERHANA, hujan turun sangat deras yang memaksa kami harus berteduh. Ditambah kemacetan di Jakal menuju per-empat-an Traffic light yang menghambat laju perjalanan kami. Akupun berbelok masuk ke bengkel motor sebelah AHAS motor, tepat di seberang Rumah Makan Sederhana. Meski sedikit basah, kami merasa bersyukur karena bisa berteduh.
Sambil berteduh menunggu hujan agak reda, kami langsung sibuk meletakkan barang-barang yang memenuhi motor kami dan juga kedua tangan fony yang sudah memegang kedua rak plastic. Di dalam kesibukan dengan diri kami, terburu-buru karena kehujanan, keinginan untuk segera sampai dan karena aku sudah “kebelet” buang air kecil, sama sekali aku tidak memperhatikan beberapa orang yang turut berteduh bersama kami. Kamipun segera meletakkan beberapa barang yang kami bawa di atas motor, kecuali kedua rak plastic karena rasanya jok motor sudah penuh. Kami enggan meletakkannya di atas lantai karena lantai sangat kotor dengan oli bengkel. Akhirnya kami punya ide untuk melepaskan rakitan rak plastic tersebut, supaya menjadi lebih praktis untuk diletakkan di atas motor dan nantinya dibawa. Saat kami sibuk melepaskan satu-persatu rakitan, tiba-tiba seorang bapak setengah tua datang ke kami dengan membawa seutas tali raffia, sambil mengatakan : “Ini mas”, Wah terkejut sekali aku melihatnya dan langsung kuterima dan kuucapkan : “terima kasih pak”, karena memang dari awal tadi aku merasa sangat membutuhkan tali untuk mengikat kedua bongkaran rak plastic tersebut.
Taukah kau kawan, apa yang terjadi selanjutnya?
Ternyata bapak tersebut adalah seorang pemulung (meski kondisinya jauh lebih baik dari pemulung pada umumnya) yang juga ikut berteduh bersama kami di bengkel tersebut.
Sejujurnya aku sangat terharu dan tersentuh dengan apa yang bapak tersebut sudah lakukan bagi kami. Seutas tali rafia mungkin sangat tidak bernilai secara rupiah, tapi dibalik tindakan itu ada sesuatu yang sangat luar biasa. Ijinkan aku menyebutnya : tindakan sederhana dengan kasih yang besar.
Kenapa kukatakan seperti itu?
Karena dalam segala kondisi tersebut, sulit bagi seorang “sigit” melihat lingkungan sekitar, apalagi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Tapi bapak tersebut justru melakukan sebaliknya, dia melihat lingkungan sekitarnya dan melihat apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Dan dia mendapatkan jawabannya di dalam kesibukan kami : seutas tali rafia.
Kalau seorang pemulung yang notabene menjadi kelompok masyarakat yang butuh ditolong saja mampu menolong, apalagi kita?

