Aku ingat kala itu…
Ketika aku sakit dan harus periksa laboratorium…
Dan mami harus berhutang ke tetangga, karena tidak ada uang sepeserpun untuk berobat
Aku ingat kegelisahan papi karena dia juga tidak berdaya kala itu
Aku ingat betapa sulitnya kondisi kami ketika salah satu diantara kami sakit…
Kesehatan adalah harta yang tak ternilai…
Tapi siapa yang menjamin bahwa kita tidak pernah bisa sakit?
Kini ketika ku telah dewasa,
Aku belajar memahami kegelisahan, ketakutan, kesedihan dan kebingungan mami,
…ketika salah satu dari kami sakit dan tidak ada uang untuk berobat.
Orang mengatakan ‘uang bisa dicari, tapi kesehatan adalah segala-galanya’
Itulah mami dan papi, meski harus menanggung malu untuk berhutang.
demi kami…
Memori itu terus ada dalam diriku
Menjadi bahan bakar yang membuatku harus terus bertahan dalam peranku kini…
Menghadapi setiap tuntutan dan tekanan dalam pekerjaan.
Dengan satu mimpi dan pengharapan…jika Tuhan mengijinkan…
Suatu saat nanti, aku menyaksikan…
Ada banyak lab-lab kecil…
Di setiap pelosok kota dan desa…
Tanpa membedakan si kaya dan si miskin, warna kulit maupun agama…
Pengusaha, pejabat, dokter, guru, tukang becak, kuli bangunan, bahkan gelandangan…
Dengan harga yang sangat terjangkau bagi mereka yang tak berdaya…
Dengan kualitas yang tinggi…
Bahkan sampai ke Papua…”Surga yang menjadi neraka itu”
Tuhan ini visi yang sangat besar, terjadilah seturut rencanamu…Amen

Ditulis sebagai doa
Jakarta, 29 Juni 2010
Pukul 19.30
